52 Tahun Harian Kompas, dari Koran Hitam Putih ke Era Multimedia

Apa yang ada di benak Anda mendengar kata kompas? Koran. Asosiasi koran amat lekat dengan kata kompas selama berpuluh-puluh tahun. 

Begitulah memang. Selama lebih dari 50 tahun Kompas menemani masyarakat Indonesia dengan gaya jurnalismenya yang khas melewati tiga zaman: Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi. Ia adalah media cetak tertua yang masih bertahan di Indonesia. 

Atau, Anda mungkin menjawab pedoman arah. Kompas adalah alat penunjuk arah. 

Begitu juga memang maksudnya. Dengan menyandang nama Kompas, koran ini memang dimaksudkan sebagai penunjuk arah. 

Mulanya, ketika pertamakali didirikan oleh PK Ojong dan Jakob Oetama, koran ini hendak dinamai Bentara Rakyat. Artinya, koran baru ini memang dimaksudkan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia rakyat.

Namun, Bung Karno tidak setuju dengan nama tersebut. Si Bung berkata, “Aku akan memberi nama yang lebih bagus…”Kompas”! Tahu toh, apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba!”. 

Jadilah nama pemberian Bung Karno itu digunakan sebagai nama koran hingga sekarang. 

Harian Kompas terbit pertamakali pada 28 Juni 1965. Terbit empat halaman dengan cetakan perdana sebanyak 4.828 eksemplar, harian Kompas hadir dengan wajah hitam putih. Harga ecerannya Rp 25 dan Rp 500 untuk langganan per bulan. 

Ada enam iklan yang menemani kehadiran pertama Kompas. Tarif iklan waktu itu adalah Rp 15 per mm/kolom. 

Empat halaman di edisi perdana itu menampilkan 20 berita dengan berita utama “Konferensi Asia-Afrika II Ditunda Empat Bulan.” Di sudut kanan bawah ada “Pojok Mang Usil” dengan tulisan “ “Mari ikat hati. Mulai hari ini, dengan Mang Usil”. 

 Terus Berubah 

Hari ini, 28 Juni 2017, harian Kompas genap berumur 52 tahun. Wajahnya tidak lagi hitam putih. Wajah Kompas terus berubah dari waktu ke waktu. 

Tidak berubah sama artinya dengan mengingkari arus kehidupan yang tak pernah kekal. Perubahan adalah keabadian itu sendiri. Mereka yang tidak berubah akan tertinggal. 

Jakob Oetama, pendiri harian Kompas, dalam tulisannya di halaman 1 harian Kompas, 28 Juni 2010 tepat pada ulang tahun Harian Kompas ke 45, menegaskan bahwa jatidiri media massa adalah berubah. 

Perubahan tak dapat dihindari karena dunia dan masyarakat yang menjadi lingkungannya juga berubah. Panta rhei kai uden menei, kata Herakleitos, filsuf Yunani. “Semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.” 

Perubahan paling signifikan terjadi pada 28 Juni 2005, pada usianya yang ke-40. Harian Kompas melakukan redesigning, resizing, dan restructuring. Wajahnya seperti yang Anda lihat saat ini. 

Tampilan baru harian Kompas berubah dari sembilan kolom menjadi tujuh kolom. Logo berubah dari warna hitam menjadi biru. Ada navigasi di sisi kiri. Halaman iklan terpisah menjadi klasika. 

Ukuran harian Kompas juga berubah dari 84 centimeter menjadi 76 centimeter. Struktur penamaan rubrik dan penataan halaman juga berubah. 

Filosofi dasar perubahan harian Kompas pada tahun itu adalah membuat semua lapisan informasi menjadi tampak (visual), gampang dikenal (visibel), dan didukung metode jurnalistik post-modern yaitu visual thinking, visuality, dan visibility. 

Multimedia 

Tapi, perubahan pada wajah cetak secara visual bukanlah perubahan terbesar dalam sejarah harian Kompas. Perubahan terbesar justru terjadi di era digital belakangan ini ketika identitas Kompas tidak lagi hanya melekat pada bentuk surat kabar, tapi berkembang dalam identitas Kompas.com, Kompas TV, dan Kompas.id. 

Kompas.com pertama kali hadir di Internet pada 14 September 1995. Kompas.com menyajikan reportase berkelanjutan dari waktu ke waktu. Kompas TV menyusul hadir sebagai entitas baru pada 9 September 2011. 

Yang paling “bungsu” adalah Kompas.id. Entitas baru ini adalah laman berbayar harian Kompas dan artikel-artikel premium lainnya. 

Perubahan itu tidak terjadi serentak dan tiba-tiba. Perubahan itu adalah hasil dari sebuah evolusi panjang dan pergulatan tak kunjung henti yang secara perlahan mentransformasikan entitas Kompas dalam bentuk-bentuk media baru. 

Harian Kompas tidak bisa mengelak dari keniscayaan perubahan yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi. Cara audiens mengonsumsi informasi pun berubah. 

“Perilaku yang begitu dinamis dalam cara orang memperoleh informasi mendorong Kompas melakukan ‘revolusi’ internal. Karena itu, sejak awal tahun 2010-sesuai tema korporat ‘Membawa KG (Kompas Gramedia) ke Dunia Digital’-Kompas menerapkan kebijakan 3M (triple M): multichannel, multiplatform, dan multimedia. Singkatnya, konten Kompas harus bisa dibaca melalui segala wahana (kertas, komputer, televisi, mobile phone, dan lain-lain). Bentuk konten yang akan di-deliver ke berbagai jenis media tidak hanya berupa teks dan foto, tetapi juga grafis, video, atau gabungan dari semuanya,” tulis Jakob. 

Begitulah, Kompas hari ini tidak lagi hanya dikenal sebagai surat kabar. Ia hadir di setiap platform baru tempat orang mengonsumsi informasi dengan cara-cara baru. 

“Kehadiran Kompas secara multimedia adalah niscaya dan mutlak. Bukan besok, tetapi hari ini. Kompas masa depan hadir secara multimedia. Lewat beragam sarana dan saluran itu, niscaya semakin produktif, efektif, dan efisien upaya Kompas sebagai lembaga yang organik dan organis, ekstensi masyarakat yang punya misi Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia,” tulis Jakob lagi. 

Masihkah Anda membayangkan koran ketika mendengar kata kompas? 

Perlahan, kata Kompas berevolusi. Ia tidak lagi sekadar koran, tapi berita yang kredibel, menyuarakan amanat hati nurani rakyat, dan menjaga kemanusiaan serta ke-Indonesiaan kita, yang hadir dalam bentuk-bentuk baru, multimedia, di segala rupa platform informasi yang ada. 

Simak selengkapnya perjalanan Kompas, warisan nilai, dan pergulatannya di era konvergensi media dalam sajian VIK “The Legacy”.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *