Pemprov Gelar Rapat Bahas Pencemaran Tambang Romang

Ambon-Aktifitas penambangan, PT. Gemala Borneo Utama (GBU) di Pulau Romang Kabupaten Maluku Barat Daya hingga kini masih terus mengemuka. Pemerintah Provinsi melalui Gubernur Maluku Said Assagaff dinilai tidak konsisten dalam mengambil kebijakan sehubungan dengan tutup tidaknya tambang tersebut.

Beberapa kali Gubernur mengeluarkan pernyataan keras akan menutup tambang emas tersebut karena dianggap telah mencemari lingkungan masyarakat pulau Romang. Dilain waktu Gubernur juga mengeluarkan pernyataan penutupan tambang pulau Romang menunggu hasil kajian tim studi analisis dampak lingkungan yang dilakukan oleh Ilmuwan Universitas Pattimura diseputaran area pertambangan maupun dampak dari pada penggunaan bahan-bahan yang dianggap berbahaya.

Persoalan tambang pulau Romang hingga seakan tidak ada solusinya. Belum ada sikap tegas pemerintah daerah setempat mengambil keputusan untuk menjawab seruan para aktifits lingkungan “Save Romang”  yang meminta proses pertambangan di pulau itu  dihentikan.

Untuk mendudukan perosoalan ini demi kepentingan bersama Pemrov Maluku bersama Tim Amdal Universitas Pattimura Ambon melakukan rapat koordinasi.

Dalam pertemuan tersebut materi pembicaraan masih seputar dampak lingkungan akibat adanya ekplorasi tambang itu.

Ketua Tim Amdal Universitas Pattimura Agus Kastanya, menyatakan pencemaran lingkungan di kawasan tambang, jika tidak di tangani secara serius maka beberapa tahun kedepan masyarakat setempat akan merasakan dampak negatif.

Masyarakat MBD melalui LSM Save Romang dan LSM Kalesang Maluku, berulang kali melakukan protes agar tambang di Pulau Romang itu ditutup. kedua LSM itu menilai keberadaan PT GBU di pulau romang telah merusak lingkungan di wilayah tersebut.

Seperti diketahui, Kamis 16 Pebruari 2017 lalu, Gubernur Maluku Said Assagaff menegaskan, akan menutup tambang emas di pulau romang kabupaten maluku barat daya, penutupan aktivitas PT GBU di kawasan tambang emas Pulau Romang dilakukan karena ada dugaan telah terjadi ekspolitasi yang berimbas pada kerusakan lingkungan di pulau tersebut.

Saat itu Gubernur merasa ditipu sebab sampel yang di ambil PT GBU ternyata ada kandungan emas, oleh karena itu Pemprov menyurati resmi penghentian aktivitas eksplorasi pada pertengahan Pebruari lalu. Surat tersebut diterima oleh Bupati MBD Barnabas Orno.DMS

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *