Polres MTB Sita 5 Koli Telur Ikan Terbang

Saumlaki – Penyidik Reskrim Polres Maluku Tenggara Barat (MTB) menyita 5 koli telur ikan terbang kering di pelabuhan laut Saumlaki yang hendak dimuat ke kapal untuk dijual di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Setelah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi, Penyidik menetapkan pemiliknya, Rahmat Hidayat alias Rahmat (41) warga Kelurahan Saumlaki Kecamatan Tanimbar Selatan, dan La Kamaludin alias La Toi (35) warga Kompleks pasar Lama Saumlaki sebagai tersangka.

Kasat Reskrim Polres MTB, Pieter Fredy Matahelemual mengatakan praktik itu diduga berlangsung sejak lama akibat lemahnya pengawasan, sehingga dengan bebas seseorang membawa komoditas perikanan untuk dijual ke luar tanpa ada izin instansi terkait.

Menurut Matahelumual, salah satu syarat yang harus dimiliki adalah surat karantina untuk menentukan telur ikan kering tidak membawa virus baik dari dan keluar Saumlaki. Dalam uji petik di lapangan dari ratusan koli ada 39 koli yang tidak memiliki  surat keterangan asal ikan yang di terbitkan DKP dan ada 5 koli yang tidak memiliki sertifikasi kesehatan atau karantina.

Terhadap telur-telur ikan yang tidak memiliki SK dikenakan pembayaran retribusi, sementara yang tidak memiliki surat karantina diproses sesuai UU no 31 tahun 2004 tentang perikanan pasal 90.

Dari penyitaan yang dilakukan pada Sabtu lalu, diketahui setiap karung dari lima koli kapasitasnya variatif, ada yang berisi lebih dari ratusan kilogram dan ada yang berkisar hingga puluhan kilogram.

Kasat mengakui pihaknya masih menunggu ketarangan ahli dari Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku, karena dalam UU Perikanan nomor 31 tahun 2004 pasal 90 menyebutkan bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemasukan atau pengeluaran ikan dan/atau hasil perikanan dari dan/atau ke wilayah Republik Indonesia yang tidak dilengkapi sertifikat kesehatan untuk konsumsi manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak delapan ratus juta rupiah.

Matahelumual menjelaskan, para pelaku tidak ditahan tahan tetapi proses penyidikan sedang berjalan. Barang bukti (BB) sudah diamankan dan para pelaku dikenakan ancaman hukuman sebagaimana diatur dalam UU nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan pasal 90.

Sementara itu, menyikapi maraknya penjualan telur ikan terbang ke luar Saumlaki, Bupati Maluku Tenggara Barat (MTB) Petrus Fatlolon mengakui masih adanya kelemahan Pemkab dalam mendeteksi setiap aksi tak terpuji dari sejumlah pihak.

Menurutnya fasilitas dalam rangka mendeteksi barang bawaan penumpang baik dengan pesawat udara maupun dengan kapal laut ini masih  sangat terbatas.

Ia berharap, ke depan nanti praktik tersebut sudah bisa diminimalisir jika pihak Bea Cukai membuka kantor di Saumlaki. Hal ini diyakini bisa membantu Dinas Perikanan Saumlaki untuk memantau setiap komoditas yang keluar daerah. (DMS-Antara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *