20 Tahun Dibangun Terminal Transit Pusat Desa Waipia Tidak Berfungsi

Ambon-Hingga hari ini terminal Pusat Desa Waipia, Kecamatan TNS Waipia, Kabupaten Maluku Tengah tak kunjung beroperasi. Padahal pembangunan terminal tersebut dibangun puluhan tahun silam.

Terminal yang terletak di Desa Bumei, Pusat Desa Kecamatan TNS, sejak dibangun oleh Bupati,  Rudolf Ruka tidak difungsikan sebagaimana peruntukanya, akibatnya terlihat kerusakan dimana-dimana.

Terminal Waipia dibangun 20 tahun lalu, menghabiskan anggaran sebesar Rp. 110 juta

Dalam perencanaan pembangunan terminal yang terletak di Jalan Trans Seram ini nantinya akan berfungsi sebagai salah satu terminal penghubung Antar Kota Dalam Kabupaten maupun Antar Kota Daerah.

Edwin Pattiasina, salah satu tokoh masyarakat Waipia, mengaku kecewa dengan sikap Pemerintah Daerah yang tidak memfungsikan terminal tersebut.

Menurutnya, telah berulang kali, keberadaan terminal tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Dearah melalui UPTD Dinas Perhubungan namun tidak direspons. Alasan Dinas Perhubungan kebijakan untuk mengoprasionalkan terminal  tersebut menjadi kewenangan pimpinan daerah.

Pattiasina,sangat menyayangkan terminal tersebut tidak digunakan, apalagi dipastikan banyak biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk pembangunan terminal tersebut.

Ia mengakui belum beroperasinya terminal ini membuat para pedagang yang sudah ada kios diterminal tersebut memilih menutup warungnya ketimbang harus merugi, karena  tidak ada pembeli.

Ia berharap Pemerintah Daerah secepatnya mengoperasi terminal Waipia tersebut.

Keberadaan terminal itu, berimbas terhadap menjamurnya, mobil pribadi yang dialih fungsikan menjadi angkutan umum, hal ini  telah menimbulkan masalah bagi para supir angkutan umum resmi. Anehnya Dinas Perhubungan justru terkesan tutup mata.

Semua supir angkutan umum yang melayani trayek Masohi-Waipia mengeluh, sebab pada trayek tersebut banyak mobil plat atau nomor polisi berwarna  hitam yang adalah jenis angkutan pribadi telah melakukan operasi mengangkut penumpang pada trayek tersebut. kondisi ini kemudian mengakibatkan pendapatan semua angkutan umum menurun tajam.

Masalah ini sudah berkali-kali dilaporkan ke Dinas Perhubungan dan Infokom Malteng, namun sampai dengan sekarang tidak ada langkah tegas yang dijatuhi atau diambil pihak dinas, sehingga jumlah mobil angkutan liar itu kini semakin bertambah banyak.DMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *