[ad_1]
- Solveig Steinhardt
- BBC Travel
Sumber gambar, Livorno Tourism
Pada 1800-an, Livorno membanggakan resor tepi lautnya sebagai yang terbaik di Italia, serta tamu-tamunya yang paling tersohor. Akhir-akhir ini, sebagian besar telah diabaikan – dan para turis melewatkan kota nan semarak yang penuh kejutan.
Setidaknya dua kali setahun saya kembali ke Livorno, kota masa kecil saya.
Hal pertama yang saya lakukan adalah menuju ke pusat pasar jajanan nan ramai, berisik, dan semarak untuk menyantap frate (donat beraroma jeruk yang dicelupkan ke dalam gula), lantas ke pelabuhan guna melihat apakah kedai-kedai bulu babi (sea urchin) masih ada di sana, menyajikan menu makhluk laut nan runcing yang dipotong dua, untuk disantap mentah-mentah dengan setetes jus lemon.
Hanya 20km di selatan Pisa, Livorno adalah kota tipikal pelabuhan khas Eropa: kacau dan marak; multikultural; dan hal itu sangat terkait dengan laut, baik secara budaya maupun gastronomi.
Plus, kota pelabuhan itu terletak di tengah Tuscany, yang secara otomatis membuatnya populer.
Sumber gambar, Patrycia Schweiß /Getty
Namun, dengan hanya 10% dari jumlah turis yang berwisata ke Florence dan sepertiga wisatawan di Pisa, Livorno acap kali diabaikan oleh pelancong – dan beberapa di antaranya yang singgah sering kali terlihat secara tak sengaja mendatanginya.
Cobalah sekali berhenti di jalan, jika Anda dapat bersua wisatawan, dan tanyakan mengapa mereka ada di sini.
Sang turis barangkali akan berujar bahwa mereka tengah menunggu untuk naik feri ke Corsica atau Sardinia, atau hanya lewat dan mencari tempat makan.
Pertama, Livorno dikelilingi kota-kota Tuscan yang terkenal di dunia yang, seperti diyakini sebagian besar warga setempat, menarik perhatian.
Yang lain percaya bahwa selama bertahun-tahun, kilang minyak kota, area pelabuhannya, dan pangkalan militer AS di Camp Darby telah melabeli Livorno sebagai kota industri yang tercemar.
Tetapi para pelancong yang bergerak cepat tak menyadari bahwa mereka kehilangan kota yang semarak secara budaya dengan garis pantai yang menakjubkan dan sikap liberal nan unik yang berakar pada kelahirannya.
Ketika keluarga Medici mendirikan kota itu pada 1500-an, mereka menerapkan undang-undang yang menjamin kebebasan yang belum pernah ada sebelumnya bagi semua pendatang baru, para pebisnis, orang-orang berbakat, dan populasi beragam yang membuat kota ini berkembang.
Pada 1700-an dan 1800-an, Livorno telah menjadi perhentian penting bagi aktivitas tamasya kalangan elite.
“Saat itu, Livorno adalah tujuan musim panas yang populer bagi masyarakat kelas tinggi Italia,” kata sejarawan lokal Giorgio Mandalis.
Dia menjelaskan bahwa pada 1800-an dan hingga Perang Dunia Kedua, kota ini menjadi rumah bagi beberapa resor tepi laut pertama di Italia, yang sering dikunjungi oleh bangsawan Italia, dan memiliki fasilitas pariwisata termasuk hotel dan spa.
Bahkan ada pasar malam dengan rollercoaster yang menampilkan versi awal bioskop, yang dioperasikan oleh sebuah agen perintis film Lumière bersaudara.
Sebuah plakat pada dinding Villa Dupuoy di lingkungan Montenero memperingati plesiran selama enam minggu Lord Byron di Livorno pada 1822. Dan salah satu opera Mozart, Lo Sposo Deluso, juga digelar di sini saat itu.
Sumber gambar, Livorno Tourism
Pada 1800-an, kota ini adalah rumah bagi beberapa resor tepi laut pertama di Italia, yang sering dikunjungi oleh bangsawan Italia.
Namun, hari-hari kejayaan tak berlangsung selamanya.
Pada Perang Dunia Kedua, serangan udara AS menghancurkan banyak pelabuhan strategis dan pusat kota, membuat Livorno menjadi salah satu kota yang paling banyak dihujani bom di Italia.
Keadaan menjadi lebih buruk, ujar kebanyakan warga setempat, dengan pembangunan kembali seluruh lingkungan pascaperang yang sembrono dan tergesa-gesa.
“Citra publik Livorno, yang telah dirusak oleh perang, semakin dihancurkan oleh bangunan-bangunan baru yang bergenre Rasionalist, didirikan tepat di sebelah arsitektur abad ke-17 yang terhindar dari bom, menyebabkan daerah itu terlihat tidak harmonis dan tidak seimbang,” kata Mandalis.
Warga kota tetap kritis terhadap pemandangan buruk itu; bahkan ada grup Facebook bernama Se potessi demolire… (Jika saya bisa menghancurkan…) yang, dalam deskripsinya, mendorong warga untuk memposting gambar-gambar bangunan yang “menyinggung pandangan mereka”.
Seperti yang dicatat oleh sejarawan seni Federica Falchini, “Orang Livora masih belum melupakan apa yang disebut ‘Nobile Interrompimento’, atau ‘Noble Interruption’, sebuah bangunan Rasionalis besar yang didirikan tepat setelah perang di tengah-tengah bekas Piazza Grande kota. Piazza, yang dulunya merupakan salah satu alun-alun terbesar di Eropa, sekarang tidak lebih dari tempat parkir di satu sisi gedung dan halte bus di sisi lain.”
Sumber gambar, Solveig Steinhardt
Sejumlah warga setempat mengatakan pembangunan kembali kota pasca perang itu sembrono dan tergesa-gesa, menyebabkannya terlihat “tidak harmonis dan tidak seimbang”.
Selain Noble interruptions, Livorno memang memiliki sisi-sisi positifnya.
“Kami memiliki hal-hal yang tidak dimiliki kota-kota Tuscan ‘benar-benar indah’ lainnya (seperti Florence, Lucca, Pisa, dan Siena),” kata Mandalis.
“Keterbukaan dan kecerahan kota telah menarik para pelukis selama berabad-abad, dan Livorno juga dipenuhi dengan sejarah dan seni, seperti resor tepi laut kuno, mercusuar abad ke-14, atau vila eklektik di depan Akademi Angkatan Laut.”
Livorno juga memiliki sejarah yang tidak seperti kota-kota Tuscan lainnya.
Mario Cardinali, pendiri dan pemimpin redaksi majalah satir lokal The Vernacoliere, menjelaskan bahwa Livorno diciptakan dan diisi secara artifisial oleh Florence pada tahun 1500-an dengan bantuan undang-undang yang sangat liberal, yang disebut Livornine.
Aturan ini mengizinkan pedagang asing dan orang buangan dari negara dan etnis mana pun, dan bahkan orang-orang yang telah melakukan kejahatan apa pun kecuali pembunuhan, untuk menetap di kota untuk mendorong bisnis dan pertumbuhan.
“Livorno sangat ‘tidak Tuscan’ dalam selera humor vulgarnya dan kurangnya rasa hormat terhadap otoritas politik dan gereja,” kata Cardinali, “dan ini memiliki alasan historis.”
Sumber gambar, Jean Claude Maconi / Getty
Livorno memiliki sejarah yang tidak seperti kota-kota Tuscan lainnya.
Perpaduan budaya, termasuk Yahudi Sephardic, Yunani, Armenia dan Belanda, membuat kota ini makmur sejak awal, tetapi juga apa yang membuat warga Livorno seperti sekarang: orang-orang yang gagal mengembangkan rasa hormat abad pertengahan terhadap otoritas yang biasanya dimiliki orang-orang Tuscan lainnya – dan mengungkapkannya melalui humor.
Ditulis dalam bahasa setempat, majalah Vernacoliere dengan sempurna mewujudkan semangat ini.
Dikenal di seluruh Italia karena kritik politiknya dan komik strip yang tidak senonoh tentang gereja Katolik, serta ketelanjangan dan berbagai tingkat kata-kata cabul, majalah ini didirikan pada 1982 untuk mengomentari kunjungan Paus ke Livorno pada tahun itu.
“Dan ada hal lain yang diwarisi dari sejarah kosmopolitan dan multikultural kota ini dan yang tidak dimiliki kota-kota Tuscan lainnya,” tambah Mandalis, “Toleransinya yang mendalam terhadap agama dan budaya yang berbeda.”
Sumber gambar, Solveig Steinhardt
Dengan hanya 10% dari jumlah turis Florence dan sepertiga dari Pisa, Livorno seringkali diabaikan oleh pengunjung.
Menurut chef Simone De Vanni, yang mengelola saluran YouTube tentang kuliner lokal, makanan juga mencerminkan karakter orang Livora.
“[Masakan khas Livorno] adalah hasil dari pengaruh banyak bangsa yang menciptakan kota ini pada abad ke-16,” katanya kepada saya.
“Tidak seperti kota-kota Tuscan lainnya yang lebih kuno, yang sudah memiliki tradisi makanan yang terdefinisi dengan baik, Livorno yang belia dan kosmopolitan mampu memadukan yang baru dan yang lama dan menciptakan masakannya sendiri.”
Hidangan seperti cuscuss alla livornese (Livornese couscous) mengungkapkan hubungan maritim historis dengan Afrika Utara dan Spanyol Yahudi, “Sementara cacciucco, hidangan khas Livorno, dengan sempurna mewujudkan Livornese”, kata De Vanni.
“Banyak jenis ikan yang berbeda dimasak bersama, menciptakan sesuatu yang bukan sup ikan atau kaldu ikan, melainkan sesuatu yang unik, sedikit seperti Livorno.”
Sumber gambar, ChiccoDodiFC/Getty
Menurut chef Simone De Vanni, yang mengelola saluran YouTube tentang kuliner lokal, makanan juga mencerminkan karakter orang Livora.
Singularitas ini bisa jadi menarik. Seperti yang dijelaskan Paola Ramoino, kepala Dinas Pariwisata Livorno: dalam beberapa dekade terakhir kota ini tidak perlu bergantung pada pariwisata berkat bisnis pelabuhannya yang berkembang pesat – tetapi telah terjadi pergeseran pemikiran itu.
“Livorno memiliki banyak hal untuk ditawarkan, dari laut dan budaya hingga makanan dan anggur, tetapi kami ingin pariwisata kami berkelanjutan. Kami ingin menawarkan pengalaman otentik dan tidak stereotip,” ujarnya.
Sejumlah hal agaknya tengah berubah dari sudut pandang budaya juga.
“Dalam beberapa tahun terakhir, pentas seni menjadi lebih hidup, dengan festival musik, teater, galeri seni, dan pameran, terutama di musim panas,” kata Alessandra Falca, musisi kelahiran Livorno yang sangat terlibat dalam kancah budaya kota.
Dengan kata lain, kota Tuscan dibuat untuk pengunjung yang mau menggali sedikit lebih dalam tentang sejarah lokal dan mengambil sikap santai dan karakter atipikalnya.
Menurut Falca, “Orang Livorno berpikir tidak ada kota yang lebih baik di dunia. Tapi dilihat dari jumlah turis yang datang ke Livorno, mereka hanya mengatakannya untuk diri sendiri.”
Mungkin sudah saatnya para pelancong memberinya kesempatan lagi.
[ad_2]
Source link