[ad_1]
- Kayleen Devlin dan Maria Korenyuk
- BBC News
Sumber gambar, Getty Images
Para murid di daerah yang dikuasai Rusia akan menghadapi kurikulum pendidikan baru yang disusun otoritas di Kremlin.
Ketika anak-anak Ukraina di daerah yang diduduki Rusia kembali ke sekolah pada awal September 2022, mereka akan mendapat pelajaran sejarah yang sangat berbeda.
BBC menemukan bahwa para guru di Ukraina sedang ditekan untuk menggunakan kurikulum buatan Rusia.
Artinya, peserta didik akan mempelajari dunia menurut sudut pandang Rusia.
Sebagian besar nama yang disebut dalam laporan ini telah diubah.
Di daerah pendudukan di Ukraina selatan, gedung-gedung milik pemerintah, termasuk sekolah, dipasangi bendera Rusia.
Di Melitopol yang kini dikendalikan Rusia, seorang anak berusia 13 tahun bersiap memulai ajaran baru di kelas delapan. Ibunya, Iryna, khawatir.
“Yang benar-benar mengusik saya adalah apa yang akan diajarkan dalam mata pelajaran sejarah. Sejarah akan diajarkan dari sisi lain,” katanya.
Iryna juga marah karena proses pengajaran akan dilakukan dalam bahasa Rusia.
“Ini adalah pemaksaan tradisi dan budaya mereka. Saya tidak ingin anak-anak menjadi sandera situasi ini,” ucapnya.
Upaya penghapusan sejarah Ukraina di daerah-daerah pendudukan telah dibanggakan secara terbuka di saluran media sosial pro-Rusia.
Berbagai foto yang rutin beredar di akun-akun media sosial itu menunjukkan pasukan Rusia mengeluarkan buku-buku sejarah Ukraina dari perpustakaan sekolah.
Lembaga yang disebut Kementerian Pencerahan Rusia sebelum ini menyatakan akan menyediakan buku pelajaran ke wilayah Ukraina.
BBC telah menganalisis isi buku teks sekolah yang digunakan oleh Kementerian Pencerahan Rusia. Kami juga menelisik perbedaan antara edisi tahun 2016 dan 2022, yang diterbitkan sebelum invasi Rusia.
Sebagian besar referensi pengetahuan yang berkaitan dengan Ukraina dan Kyiv telah dihapus. Bahkan, Kyivan Rus alias nama sebuah negara Eropa Timur pada abad pertengahan yang memiliki ibu kota di Kyiv diganti dengan nama Rus yang secara harafiah berarti Rusia Lama.
Berbagai buku itu memuat pernyataan palsu bahwa selama pencaplokan Krimea oleh Rusia pada tahun 2014, masyarakat keluar untuk melindungi hak-hak mereka karena.
Pemicunya, menurut buku itu, kelompok nasionalis radikal berkuasa di Kyiv dengan dukungan Barat.
Sementara itu, dalam versi buku pelajaran saat ini, jumlah referensi tentang Putin dan klaim atas sejumlah prestasi telah bertambah.
BBC menghubungi Kementerian Pencerahan Rusia untuk mengonfirmasi temuan ini, tapi mereka tidak memberikan tanggapan.
Buku teks Rusia menyebut pencaplokan Krimea sebagai “penyatuan kembali dengan Rusia” dan menuduh pemerintahan Ukraina dijalankan kelompok nasionalis radikal.
Di Melitopol, orang tua murid bernama Iryna mempertimbangkan untuk hijrah ke wilayah yang dikuasai Ukraina, tapi dia tidak ingin meninggalkan rumahnya.
Iryna bersikeras tidak ingin anaknya belajar di bawah kurikulum Rusia, tapi dia juga khawatir tidak sanggup menjaga anaknya di rumah.
Pada prinsipnya, anak-anak dapat mempelajari kurikulum bahasa Ukraina secara daring. Walau begitu, banyak orang tua mencemaskan konsekuensinya.
“Bagaimana jika seseorang memberi tahu kami kepada otoritas baru yang ditunjuk Rusia atau jika mereka mulai menganiaya saya dan anak saya karena kami tidak menerima pendidikan Rusia?” ujar Iryna.
Pada 19 Agustus lalu, sebuah unggahan dimedia sosial Telegram dari media massa lokal pro-Ukraina mengutip pesan yang diduga dikirim oleh seorang guru pro-Rusia kepada orang tua murid di sebuah sekolah di luar Melitopol.
Pesan itu tertulis, “tidak akan ada pembelajaran jarak jauh di wilayah kami yang dibebaskan”.
Istilah dibebaskan digunakan Rusia untuk merujuk wilayah Ukraina yang mereka kuasai.
“Orang tua yang menolak mengirim anak-anak mereka untuk pengajaran tatap muka akan dicabut haknya sebagai orang tua jika mereka melanggar aturan tersebut berkali-kali,” begitu ancaman pesan tersebut.
Para guru diincar dan dideportasi
Para guru yang pro-Ukraina juga sangat terpukul oleh perang. Banyak dari mereka dipaksa bersembunyi, diwajibkan mengikuti ‘pelatihan ulang’ atau mendapat ancaman deportasi.
Dmytro, seorang kepala sekolah di Melitopol, mengelola institusi dengan jumlah murid lebih dari 500 murid sebelum invasi Rusia terjadi. Sekarang dia bersembunyi karena diincar otoritas Rusia atas tuduhan mencoba mengatur siswa untuk mempelajari kurikulum Ukraina secara online.
Dmytro berkata, dia mengenal beberapa guru yang dipaksa atau memutuskan untuk bekerja sama dengan pejabat Rusia. Mereka dikirim ke Krimea atau Rusia untuk dilatih mengajar dengan cara yang sesuai dengan ideologi Rusia.
“Mereka diberi tahu bahwa kita adalah Rusia, kita adalah satu, kita harus bersatu. Narasi ini harus diteruskan ke anak-anak,” kata Dmytro.
Meski Dmytro memilih untuk tinggal di daerah yang dikuasai Rusia, banyak guru dan orang tua murid memutuskan mengungsi.
Sumber gambar, Getty Images
Pasukan Rusia dituduh mengancam melakukan deportasi kepada para guru yang pro-Ukraina.
Marina, seorang guru dari Nova Kakhovka di wilayah Kherson, melarikan diri pada akhir Juli lalu.
Dia mengungsi beberapa minggu usai tentara Rusia bersenjata dan kepala pendidikan Rusia mengumumkan bahwa mereka menutup sekolahnya. Alasannya, kepala sekolah di tempat Marina bekerja enggan bekerja sama dengan Rusia.
Marina berkata telah mendengar kabar kekurangan tenga pendidik di Nova Kakhovka. Di wilayah itu, para guru harus mengajar beberapa mata pelajaran yang tidak saling berkaitan.
Marina khawatir sistem pendidikan yang diterapkan Rusia akan merusak identitas murid-muridnya.
“Tugas utama guru-guru itu adalah mencuci otak dan memasukkan narasi Rusia ke dalam pikiran anak-anak. Mereka ingin anak-anak Ukraina melupakan negara tempat mereka tinggal, melupakan siapa mereka,” ucapnya.
Reinterpretasi sejarah
Leonid Katsva adalah seorang penulis Rusia yang telah mengajar sejarah di sekolah-sekolah di Moskow selama 42 tahun terakhir. Dia telah melihat bagaimana sejarah dalam buku teks Rusia tidak dicatat sebagaimana mesetinya.
Katsva mencontohkan, buku-buku sejarah Rusia tidak menyebut aneksasi mereka terhadap Krimea pada tahun 2014.
Pada tahun ajaran baru, Katsva percaya buku-buku sejarah Rusia kemungkinan akan menampilkan perspektif yang sinis terhadap negara Barat.
“Buku pelajaran yang sedang dimoderasi secara kaku sekarang akan sepenuhnya mengikuti saluran Channel One (TV pemerintah Rusia),” ucapnya.
Sumber gambar, Getty Images
Banyak orang tua khawatir kehilangan hak asuh jika anak-anak mereka mempelajari kurikulum Ukraina.
“Ini adalah bukti nyata bahwa Rusia menggunakan pendidikan di sekolah sebagai alat propaganda”, kata Dmytro, kepala sekolah di Melitopol.
Namun, Dmytro berharap, bahkan dengan akses terbatas ke versi online kurikulum Ukraina, anak-anak dari wilayahnya masih dapat mempelajari jejak peristiwa yang sebenarnya.
Dia ingin para murid memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang sejarah Ukraina baru-baru ini.
“Anak-anak kami terus bertanya mengapa sekolah mereka dipasangi bendera negara lain,” ujar Dmytro.
“Apa yang bisa saya katakan. Bahkan anak-anak berusia enam tahun mengerti bahwa ini tidak normal,” ucapnya.
Jurnalis Yana Lyushnevskaya turut berkontribusi pada liputan ini
[ad_2]
Source link