Berita SBB, Kairatu – Ruas jalan Rambatu – Manusa yang menghubungkan Kecamatan Kairatu dengan Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), kondisinya sangat memprihatinkan.
Proyek yang dikerjakan PT Bias Sinar Abadi (BSA), pada Tahun 2018 dengan anggaran Rp31 miliar berasal dari APBD Kabupaten SBB itu, kondisinya saat ini rusak parah.
Meski pencairan sudah dilakukan 100 persen, tetapi kenyataan dilapangan pembangunan ruas jalan sepanjang 24 KM tersebut, dikerjakan amburadul.
Sebagian sirtu sudah terlepas. Lubang terdapat dimana-mana, belum lagi timbunan longsor menutup badan jalan.
Kondisi tersebut, menyulitkan masyarakat yang mendiami kawasan pegunungan di Kecamatan Inamosol. Warga tidak bisa memanfaatkan jalan tersebut sebagai satu-satunya jalur transportasi menuju pusat perkotaan.
Ruas jalan ini merupakan satu-satunya akses warga untuk bisa sampai ke perkotaan, baik untuk kepentingan menjual hasil pertanian ke pasar juga untuk pengurusan lainya.
Jenlik Ruspanah warga Negeri Manusa, kepada DMS Media Group, Selasa (18/10) menyatakan kekesalannya, menyusul pembangunan ruas jalan Inamosol yang tidak terselesaikan hingga hari ini.
Dikatakan, pemerintah dan warga Negeri Manusa sangat mensuport proyek pembangunan ruas jalan itu, dengan memberi kebebasan kepada pihak kontraktor, mengambil bahan matrial berupa sirtu dan batu secara gratis.
Bahkan warga rela kebun dan tanaman mereka digusur tanpa meminta ganti rugi asalkan mereka mendapatkan akses jalan.
Diakui, warga tiga Negeri pegunungan di Kecamatan Inamosol yaitu Rambatu, Manusa dan Rumberu miskin akan infrastruktur jalan dan jembatan. Mereka masih terisolasi dan menjadi warga kelas dua di Republik ini.
Proyek pembangunan ruas jalan Insamosol tersebut juga dikeluhkan salah satu warga Rambatu Elen Lumoly. Padahal pelaksanaan pekerjaan pembangunan jalan tersebut diharapkan berdampak membantu membuka keterisolasian warga selama ini, setidaknya menuju Kecamatan Kairatu dan daerah pesisir lainya.
Dikatakan, akibat dari fisik jalan yang hancur saat ini, warga Rambatu yang ingin turun ke kota harus menggunakan transportasi ojek sebesar Rp.250 sedangkan dengan mobil angkot Rp150 ribu.
Diceritakan selama ini jika harus berurusan di Kabupaten dirinya harus mengeluarkan biaya transportasi yang cukup mahal. Untuk sekali perjalanan pergi pulang, Rambatu Kairatu yang jaraknya ± 50 KM dirinya harus merogoh saku paling sedikit Rp300 ribu.
Sebagai seorang pengajar di Negeri Rambatu, Elen sangat berharap pembangunan ruas jalan Inamosol itu cepat selesai, sehingga bisa mendukung akses pendidikan di daerah pegunungan.
Diceritakan belum tersedianya jalan dan jembatan membuat sebagian siswa diwaktu tertentu tidak bisa bersekolah, karena jarak dari rumah ke sekolah harus melewati sungai Koa.
Bahkan tahun lalu beberapa siswa hampir saja kehilangan nyawa saat melewati sungai Koa yang saat itu sedang banjir.
Untuk itu dia berharap akses jalan ini dapat dibangun dan segera selesai sehingga menopang tidak saja perekonomian warga tetapi juga pendidikan dan kesehatan.
DMS Media Group saat melakukan pemantuan di lokasi, Selasa 918/10) mendapatkan ruas jalan tersebut sangat memprihatinkan.
Kondisi jalan, baru penimbunan sirtu dan pengerasan, itupun sudah tergerus air. Banyak lubang menganga di sepanjang jalan belum lagi longsoran menutup badan jalan.
Sehinga pengendara baik roda empat maupun roda dua harus selalu berhati-hati dalam melintas karena jalan sangat rusak.
Bahkan ditengah perjalanan menuju Ramabtu dan Manusa ditemukan sejumlah warga bersama pengendara (sopir) gotong royong bekerja menutup jalan berlubang agar bisa dilewati kendaraan yang mereka tumpangi baik itu roda empat maupun roda dua.
Harapan sebagian besar warga agar pemerintah provinsi, kabupaten bahkan pusat bisa mempercepat proyek pengaspalan dan pembangunan jembatan menuju daerah itu.DMS