Saturday 24th February 2018

Ambon, Destinasi Wisata Timur Indonesia yang ‘Manise’

Ambon, CNN Indonesia — Beberapa tahun belakangan ini, kawasan Indonesia Timur sedang ramai dikunjungi turis, baik dari dalam maupun luar negeri. Pesona alamnya yang “masih perawan” membuat banyak orang penasaran.

Kota Ambon bisa dijadikan pilihan jika baru pertama kali menjelajahi Indonesia Timur. Objek wisata sampai kuliner di sana pasti bikin ingin kembali.

Kota yang identik dengan sebutan ‘Ambon Manise’ alias cantik ini merupakan pusat kota di Maluku. Dibandingkan dengan kota lain di Maluku, bisa dibilang Ambon merupakan kota yang paling maju, terutama ddalam hal pariwisatanya.

Berada di pesisir dengan matahari yang selalu terik sepanjang tahun, suhu di Ambon terasa lebih panas daripada Jakarta. Turis yang datang ke sini sudah pasti tak bisa menghindari matahari.

Dari Jakarta, Ambon bisa ditempuh dengan penerbangan selama sekitar empat jam. Harga tiketnya mulai dari Rp1,5 jutaan untuk sekali pergi. Ada juga maskapai yang memiliki rute transit di Ujung Pandang atau Ternate.

Selain penerbangan langsung, ada banyak juga jaringan hotel bintang empat, dengan tarif menginap mulai dari Rp400 ribuan per malam.

Walau pilihan pesawat dan hotel beragam, namun alat transportasi untuk berkeliling kota cukup susah dicari. Ada angkutan umum, tapi tak banyak.

Sebagai alternatif transportasi, turis bisa menyewa mobil selama satu hari untuk keliling Ambon dengan tarif mulai dari Rp500 ribuan sudah termasuk supir dan bensin.

Berikut ini ialah pengalaman saya seharian berwisata di Ambon pada akhir pekan kemarin:

06.30 – Menenggak “Kopi Perdamaian”

Saya mengawali perjalanan dengan berkunjung ke Rumah Kopi Sibu Sibu atas rekomendasi banyak warga lokal.

Rumah Kopi Sibu Sibu terletak di Jalan Said Perintah, tak jauh dari perempatan Tugu Trikora.

Sampai di sana, foto-foto publik figur ternama di Indonesia dan dunia yang berdarah Maluku. Warna foto yang sudah memudar menjadi penanda lama dokumentasi kebanggaan itu terpajang.

Sama seperti yang sering dilakukan pemilik bisnis di daerah pada umumnya, ada tanda tangan sang tokoh dalam foto-foto tersebut. Foto karyawan bersama selebriti sambil mengacungkan ibu jari juga ada.

“Kami ingin memberitahu bahwa banyak orang Maluku yang berprestasi. Foto-foto ini dikumpulkan almarhum suami saya, Victor Manuhutu,” kata pemilik Rumah Kopi Sibu-Sibu June Manuhutu.

Ditengah perbincangan, Kopi Rarobang yang saya pesan datang. Sembari menyeruput, June menjelaskan racikan kopi yang dijual seharga Rp16 ribu itu.

“Ini kopi susu dengan campuran jahe dan kenari. Kami campurkan rempah agar ada rasa Maluku dalam cangkir kopi itu,” kata June.

Remah buah kenari yang mengambang seakan menjadi biskuit yang menemani kopi, layaknya penyajian kopi di kafe-kafe modern. Kenari yang terendam membuat dagingnya lunak dan mudah dikunyah.

Campuran jahe membuat hangat tenggorokan tiap meneguk kopi. Tak terasa jidat mulai berkeringat karena hawa gerah, tapi tubuh terasa lebih segar.

June menjelaskan racikan kopi dengan rempah-rempah merupakan ide Victor. Jahe, cengkeh dan kenari yang digunakan selalu dibeli dari petani di tempat kelahiran Victor, yaitu Pulau Saparua, Maluku Tengah.

“Kalau kopi saya ambil dari Toraja, sekali pemesanan sekitar 25 kilogram. Di Maluku itu sebenernya enggak ada kopi,” kata June.

Selain Kopi Rarobang, Rumah Kopi Sibu-Sibu juga menyajikan Kopi Areng, Kopi Ginseng, kopi Susu, teh jahe, susu, cokelat panas dan beragam jus buah segar.

Camilan khas Maluku pun turut disajikan seperti sukun goreng, kue sagu kenari dan pisang goreng.

June mengenang Rumah Kopi Sibu Sibu dibangun atas ide Victor pada pertengahan tahun 2006, pasca-konflik antaragama yang terjadi kotanya. Victor ingin mengembalikan budaya orang Maluku yang cinta damai lewat kopi.

“Suami saya sakit stroke selama 15 tahun, hanya bagian kiri tubuhnya yang berfungsi. Dia penulis di koran lokal. Saat kami baru buka, dia sedikit promosi menulis soal rumah kopi ini,” kata June.

Pucuk dicita ulam pun tiba, banyak pengunjung datang karena penasaran setelah membaca tulisan Victor.

Sampai akhirnya dua pihak yang terlibat konflik datang ke rumah kopi itu. Usai duduk bersama sambil menyesap kopi, mereka sepakat berdamai.

“Mereka itu sebenarnya rindu suasana nongkrong. Pihak yang terlibat konflik damai dengan sendirinya di rumah kopi ini. Tak peduli Islam atau Kristen, mereka berdamai,” kata June.

08.00 – Pantai berkarang

Ambon dikelilingi begitu banyak pantai. Tak lengkap rasanya bila tak mendatanginya satu atau dua pantai saat berada di sana.

Pantai Pintu Kota merupakan salah satu pantai yang wajib dikunjungi. Pantai yang terletak di selatan kota ini tidak sulit untuk dikunjungi, jalan menuju pantai ini sudah beraspal dan memiliki banyak petunjuk jalan.

Pantai ini memang bukan pantai untuk berenang, karena berbentuk teluk dan banyak karang besar di bibir pantai. Hanya sedikit pasir yang bisa dilalui pengunjung, namun harus menuruni tanggak yang cukup curam dan sempit.

Tetapi pemandangan di pantai sangatlah sayang untuk dilewatkan. Pada pantai ini terdapat satu tebing karang yang paling besar. Di bagian bawah karang itu terdapat lubang besar yang menembus kedua sisi.

Jika pintar menentukan posisi, pasti bisa mendapatkan foto pemandangan atau selfie yang ciamik.

Di sekitar pantai terdapat warung yang menjual makanan dan minuman. Minum dan makan kelapa langsung dari buah nampaknya menjadi pilihan paling tepat sembari menikmati pemandangan.

09.00 – Pantai Namalatu

Tak jauh dari Pantai Pintu Kota terletak Pantai Namalatu yang tak kalah cantik. Pasir putih serta air laut yang jernih membuat pantai ini ideal untuk berenang atau menyelam.

Namalatu sendiri berasal dari dua kata, ‘nama’ berarti nama dan ‘latu’ berarti raja. Secara harfiah, pantai yang mengarah ke Laut Banda ini bisa diartikan sebagai ‘Raja Pantai di Ambon’.

Di ujung pantai terdapat jembatan ke arah pantai. Jembatan itu merupakan salah satu spot foto terbaik di Pantai Namalatu.

Jangan takut kelaparan atau kehausan bila berkunjung ke pantai ini. Di sekitar pantai terdapat warung yang tertata rapi dan menjual makanan serta minuman dengan harga wajar.

11.00 – Makan siang di tengah laut

Karena Ambon dikelilingi pantai, saya memutuskan makan siang di Rumah Makan Dua Ikan. Sebagian rumah makan ini terapung di atas laut yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi.

Restoran yang mengarah ke Teluk Ambon ini didesain seperti dermaga dengan meja makan di atasnya. Di sisi lain ini juga terdapat tempat makan seperti kapal yang sedang parkir di dermaga.

Pengunjung bisa memlih sendiri jenis ikan, udang atau cumi yang dipesan. Khusus untuk ikan, pengunjung juga bisa memilih langsung ikan hidup yang tersedia di tambak pinggir dermaga.

Bila memilih ikan dengan berat minimal 1 kilogram, ikan bisa dimasak dengan dua cara. Misal, setengah kilogram dimasak kuah kuning, setengah kilogram dimasak bumbu rujak.

Bila memilih ikan dengan berat lebih dari 2 kilogram, ikan bisa dimasak dengan tiga cara, dan seterusnya.

Harga satu ikan berkisar puluhan sampai ratusan ribu rupiah. Jangan lupa memilih berat ikan sesuai kemampuan makan agar tidak mubazir.

Saya memilih ikan bumbu kuning karena merupakan makanan khas Indonesia Timur. Orang Maluku biasa memakan ikan kuah kuning dengan papeda atau bubur sagu, namun saya lebih memilih memakan dengan nasi.

Ikan kuah kuning terasa gurih dan sedikit pedas karena dimasak dengan rawit utuh. Perasan jeruk nipis serta daun kemangi membuat ikan kuah kuning terasa segar.

Menu yang nikmat serta pemandangan Teluk Ambon yang indah membuat makan siang saya sempurna.

13.00 – ‘Berburu’ Burung Maleo

Setelah mengisi tenaga, saya memilih melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih menantang. Negeri Kailolo, Pulau Haruku adalah tempat tujuan saya.

Untuk menuju Pulau Haruku, saya harus pergi ke Pelabuhan Tulehu Kecil lebih dulu. Uang sebanyak Rp 250.000 untuk sewa speed boat kecil saya keluarkan demi melihat Burung Maleo. Perjalanan menuju Pulau Haruku kurang lebih 30 menit.

Di Negeri Kailolo terdapat peternakan Burung Maleo yang telah lama dikembangkan warga. Burung yang tergolong dalam ekosistem Wallacea ini merupakan burung endemik asal Sulawesi. Entah bagaimana burung itu bisa mendarat dan berkembangbiak di Maluku.

Sampai di Negeri Kailolo, saya berjalan sedikit ke arah hutan untuk menemukan sarang Maleo. Makhluk bersayap itu bergerak sangat cepat sehingga saya tak berhasil mengambil gambar dengan jelas.

Salah satu peternak yang saya temui mengatakan kalau Maleo memang memiliki pendengaran yang sangat sensitif dan bisa mendengar derap langkah manusia dari jarak kurang lebih 50 meter.

Abdulrahman Sahubawa (46) menjelaskan bahwa pengelolaan peternakan Maleo berganti kepemilikan setiap tahun dengan sistem lelang.

“Setiap tahun peternakan ini dilelang dengan harga awal Rp20 juta. Yang membeli bisa satu orang atau kelompok. Uang hasil lelang kami gunakan untuk memperbaiki masjid atau kebutuhan warga Pulau Haruku. Kalau ada lebihnya, baru dibagikan ke peternak sebelumnya,” kata Abdul.

Dalam hutan ini, kata Abdul, terdapat empat lapangan pasir yang digunakan Maleo untuk menetaskan telur.

Setiap hari di antara pukul 19.00 sampai 04.00, burung akan bertelur dan menyembunyikan telurnya di bawah pasir. Kurang lebih terdapat 30 sampai 50 telur di setiap lapangan tersebut.

“Menjelang bertelur mereka tidak bisa terbang, karena telurnya besar sedangkan badannya kecil. Banyak peneliti dari luar negeri yang datang ke sini meneliti kehidupan mereka,” kata Abdul.

Badan Maleo kurang lebih seperempat ukuran ayam jantan. Sedangkan telur maleo dua sampai tiga kali lebih besar dari telur ayam. Wajar saja bila Maleo butuh waktu lama untuk bertelur dan memulihkan diri.

Dari segi fisik, telur Maleo lebih rentan dari pada telur ayam. Menurut Abdul, burung itu selalu mendarat dengan dada ketika bertelur, agar telur tidak pecah.

“Telur Maleo ini kuningnya besar sekali, baunya lebih amis dari telur ayam. Di sini kami menjual Rp 3.000 per butir, kalau di luar bisa Rp 5.000 per butir atau lebih,” kata Abdul.

Abdul memerkirakan, ada 400 ekor Maleo yang terdiri dari jantan dan betina di Pulau Haruku. Yang paling besar alias Raja Maleo, kurang lebih seukuran kambing kecil.

Maleo, kata Abdul, banyak bertelur saat musim panas. Satu burung bisa menelurkan dua sampai tiga butir saat musim panas. Sebaliknya saat musim hujan satu burung hanya menelurkan satu butir.

15.00 – Menjajal “Kampung Sepak Bola”

Saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Negeri Tulehu atau yang dikenal dengan Kampung Sepakbola setelah kembali ke pelabuhan.

Negeri Tulehu merupakan tempat kelahiran pesepakbola profesional Indonesia, seperti Ramdani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, dan Imran Nahumarury..

Tak disangka saya hadir tepat waktu, Negeri Tulehu sedang mengadakan turnamen antar angkatan. Mulai dari usia belasan sampai usia 40-an bertanding dalam berbagai klasemen.

Liga itu digelar di Taremball Matawaru, lapangan paling bersejarah di Tulehu. Bagi yang pernah menonton film ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’ atau membaca novel ‘Jalan Lain ke Tulehu’ pasti mengetahui Taremball Matawaru.

Di tengah pertandingan, saya berkunjung ke rumah salah satu tetua adat Negeri Tulehu Sudarmadji Lestaluhu. Ia berkisah bahwa sepak bola sudah bagai agama bagi warga Negeri Tulehu.

“Orang Tulehu sudah main bola sejak tahun 1800-an. Itu berasal dari orang Tulehu yang merantau ke Inggris, kemudian kembali ke sini. Yang merantau ke Malaysia dan Singapura juga mendapat ilmu sepak bola, kan dua negara itu jajahan Inggris,” kata Sudarmadji.

Ketika tak ada bola, kata Abdul, warga Tulehu membuat bola dari kain bekas yang digulung-gulung menyerupai bola. Apa pun akan dilakukan agar bisa bermain sepak bola.

Hingga kini, Tulehu menjadi daerah yang paling produktif mencetak pesebakbola di Indonesia. Tidak salah bila dinobatkan sebegai Kampung Sepak Bola oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 2015.

Puas menyaksikan pertandingan, saya bekunjung ke Pantai Tulehu untuk kembali bersantai.

Di bibir pantai itu terdapat air panas yang muncul dari bawah pasir. Warga Tulehu percaya air panas itu berasal dari Gunung Salahutu.

“Kalau pegel atau keseleo abis main bola, pasti ke sana untuk mandi air panas, sejak dulu begitu. Kemudian pada penjajahan Jepang, dibuat tempat buat duduk dari batu,” kata Sudarmadji.

Sudarmadji mengatakan warga Tulehu masih percaya akan legenda di tanah kelahiran mereka. Salah satunya mengoleskan rumput yang berasal dari tanah Negeri Tulehu ke kaki anak yang sedang aqiqah.

Ritual itu dilakukan agar mahir bermain bola dan tak lupa dengan tanah kelahiran, baik untuk laki-laki atau perempuan.

17.00 – Sunset bersama rujak

Setelah beraktivitas seharian, saya ingin melanjutkan perjalanan ke tempat yang tidak terlalu menguras tenaga. Sembari mengarah ke Kota Ambon, saya mampir ke Pantai Natsepa untuk menyicipi Rujak Natsepa.

Walau rujak bukan makanan khas Maluku, Natsepa merupakan salah satu makanan yang wajib dicoba ketika datang ke Ambon. Bahkan orang Ambon sendiri sering berkata, “Belum ke Ambon kalau belum makan rujak Natsepa”.

Rujak Natsepa tak jauh berbeda dari rujak lain di Indonesia. Buah-buahan diiris kemudian dicampur dalam mangkuk dan dimakan dengan bumbu rujak. Satu porsi dijual dengan harga Rp 15 ribu.

“Rujak Natsepa beda dengan rujak yang lain. Gula dalam bumbu rujak kami pakai gula aren dan kacang yang sengaja gak diulek sampai halus,” kata salah satu penjual, Tina Pitries (28).

Tina mendapat resep dari keluarga yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi. Ia sendiri tidak tahu kapan pertama kali menu ini ditemukan.

Tina meneruskan ibunya yang berjualan sejak tahun 2000, kemudian mulai berjualan sendiri pada tahun 2014.

“Keluarga saya jual rujak seporsi dari harga Rp 1.500. Nenek saya juga menjual ini dan juga mamanya. Memang ini turun menurun sudah, hanya orang Natsepa yang menjual rujak begini,” kata Tina.

Kurang lebih terdapat 40 warung di Pantai Natsepa yang menjual Rujak Natsepa. Dulu, pedagang rujak hanya berjualan bermodalkan payung besar. Kemudian pada tahun 2010 pemerintah kota menata warung lalu tahun 2013 pedagang rujak patungan untuk renovasi.

Beruntung Pantai Natsepa merupakan pantai yang tepat untuk menikmati matahari terbenam. Semangkuk rujak dan kelapa muda menemani saya melihat langit biru kemerahan kemudian menjadi gelap.

19.30 – Nasi Kuning dan Daging Rusa

Nasi Kuning Urimese adalah tempat makan malam saya. Terletak di trotoar Jalan Setiabudi, nasi kuning ini tidak seperti nasi kuning kebanyakan.

Selain bisa makan nasi kuning beserta lauk pauk biasa, Nasi Kuning Urimese juga menyajikan daging rusa. Setelah melalui berbagai proses masak, daging rusa tersebut disajikan dengan disuir seperti serundeng.

“Kami perhari masak daging rusa empat kilogram. Pertama direbus dulu, setelah itu disuir kemudian ditumis bersama bumbu,” kata salah satu penjaga warung nasi kuning urimese Nungki (50).

Seporsi nasi kuning tanpa lauk dijual dengan harga Rp 10 ribu. Bila ingin lauk biasa seperti perkedel, bihun, tempe orek dan tumis kacang panjang, pembeli dikenakan harga Rp 15 ribu. Sedangkan daging rusa dijual dengan harga Rp 14.000.

Tumis daging rusa yang disajikan terasa gurih dan manis diakhir. Dari segi tekstur, daging rusa tak jauh berbeda dengan daging kambing. Namun daging rusa rusa lebih keras dan lebih berserat.

Nungki mengaku mendapat daging rusa dari pemasok yang tinggal Pulau Seram. Menurutnya di pulau masih terdapat banyak di dalam hutan.

“Harga perkilo daging rusa ini Rp 150 ribu, setiap pemesanan kami beli 50 kilogram. Per hari kami bawa daging rusa sekitar empat kilogram. Orang Ambon sangat suka daging rusa dan hanya kami yang jual di sini,” kata Nungki.

Nasi Kuning Urimese buka dari pukul 18.00 sampai 02.00.

21.00 – Menutup malam di Balai Kota Ambon

Mengakhiri hari di Lapangan Merdeka Balai Kota Ambon merupakan pilihan tepat. Lapangan ini ramai dikunjungi warga dan turis pada malam hari.

Di sebelah kiri terdapat tulisan ‘Ambon Manise’ berwarna oranye dengan lampu di dalamnya. Tulisan yang menyala pada malam hari membuat lapangan jadi temaram. Tak sedikit orang yang berfoto di tulisan itu.

Tepat di seberang lapangan terdapat Gong Perdamaian Dunia. Pada gong itu terpatri berbagai lambang agama dan bendera berbagai negara. Gong ini merupakan Gong Perdamaian ke-35 yang tersebar di dunia.

Gong yang terletak di Taman Pelita ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 25 November 2009 silam. Diharapkan citra Ambon yang identik dengan kerusuhan dan kekerasan bisa hilang dengan adanya simbol ini. (DMS – cnnindonesia.com)




No Responses

Tinggalkan Balasan

Contact Person WhatsApp us