Berita Ambon – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menjajaki peluang kerjasama Sister City berbasis Kota Kreatif bersama Pemerintah Republik Kuba, dan Metz Paris Perancis dalam waktu dekat.
Rencana ini mendapat dukungan positif dari Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Republik Cuba, Bahamas, Dominican Republikan,Haiti dan Jamaica, Nana Yuliana juga Dubes Indonesia untuk Perancis dan Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Prof. Ismunandar
Walikota Ambon Richard Louhenapessy pada acara International Virtual Conference yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon bersama Ambon Music Office (AMO), di Balai Kota Ambon, Selasa (31/08), optimistis penetapan Ambon sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO memberi harapan baik.
Menurutnya Kondisi Pandemi COVID-19 tidak serta merta menghalangi kreatifitas Pemerintah Kota Ambon, dan AMO dalam pengembangan Ambon City Of Music (ACOM) sebagai salah satu kota kreatif berbasis musik yang diakui UNESCO.
“Terbukti, representasi Pemkot lewat AMO turut berperan dalam dialog-dialog global mengenai peran sektor kreatif untuk membangun kota dan masyarakat sambil mempersiapkan diri untuk proses evaluasi setiap empat tahun oleh UNESCO” kata Walikota
“Ambon harus melangkah lebih maju sebagai kota yang kreatif dari segi budaya setelah ditetapkan sebagai City of Music oleh UNESCO Oktober 2019 lalu.Salah satunya yang akan dilakukan Pemkot adalah kerjasama Sister City dengan Kota Metz di Paris Prancis dan Havana Kuba”kata Louhenapessy .
Menurut Louhenapessy, musik tidak sekedar hoby, tetapi harapan, musik harus dikemas secara kreatif sehingga berdampak luas bagi pengembangan ekonomi masyarakat di kota bertajuk Manise itu.
Dikatakan Ambon dengan ikon City Of Music, memiliki nilai jual yang tinggi dengan tingkat kreatifitas dari kultur musik yang melekat dan menjadi ciri khas pergerakan kota kreatif.
Selain potensi pasar, tersebar pada 47 kota musik dunia dan 246 kota kreatif UNESCO. Pasar lainnya adalah dua kota kembar atau sister city yaitu vlissingen (Belanda) dan Darwin (Australia). Ambon juga tengah berproses sister city dengan Havana – Kuba dan Paris –Perancis.
“Pemkot lewat AMO juga bekerjasama dengan Mannheim dan Katowice UNESCo City Of music serta senantiasa berkolaborasi dengan Suphanburi dan Chiang Mai di tingkat ASEAN,”imbuhnya.
Dengan memanfaatkan potensi pasar di 47 kota musik dunia yang ditetapkan UNESCO serta 246 kota kreatif yang masuk dalam Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Ambon harus bergerak semakin kreatif baik dari segi budaya pariwisata dan tentunya musik itu senidiri.
Direktur Ambon Music Office (AMO), Ronny Loppies mengatakan, International Virtual Confrence (ICV) “446 Anniversary of Ambon City” dengan tema Music Is My Live, membuka peluang besar Ambon, membangun kerjasama dengan kota – kota di Indonesia maupun di mancanegara terutama dengan kota-kota musik dunia lainnya.
Loppies berharap melalui International Virtual Confrence 446 Anniversary of Ambon City, berbagai pandangan, pengalaman, akan berdampak ganda (multiplier effect) tidak saja bagi pengembangan Ambon sebagai City of tetapi juga Ambon sebagai kota kreatif, baik dari ekonomi pariwisata dan budaya.
International Virtual Confrence (ICV) “446 Anniversary of Ambon City” dengan tema Music Is My Live, menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri.
Para pembicara diantaranya, Director UNESCO City of Music Mannheim, Rainer Kern, Dubes Indonesia untuk Perancis dan Wakil Delegasi tetap RI untuk UNESCO Prof. Ismunandar, Vice Governoor of Suphanburi Province yang merupakan Kota Kreatif berbasis music di Thailand, Choocheap Pongchai, Dubes Indonesia untuk Kuba, Bahamas, Republik Dominic, Haiti dan Jamaica, Nana Yuliana, Executive Chairman of the Indonesian National Commission for UNESCO, Ministry of Education,Culture, Research and Technology, Rachman.
Pembicara Lainnya dalam even ini yakni Staf Ahli Menteri Pariwisata dan Ekraf RI yang menjadi inisiator Ambon City of Music, Ari Juliano Gema, Ketua Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Fiki Satari, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek, Hilmar Farid, Pengamat dan wartawan senior musik Indonesia, Bens Leo, serta Musisi Senior Indonesia, Harry Anggoman.DMS