Calon Tersangka Terminal Transit Passo Waktu Dekat Di Ekspose

Ambon-Tim Penyidik Korupsi Kejaksaan Tinggi Maluku terus bekerja maksimal untuk mengungkap kasus dugaan korupsi terminal Transit Passo. Hingga saat ini personil Adhiyaksa ini telah memeriksa sebanyak  28 orang,  yang mengetahui proses pekerjaan mega proyek tersebut.

Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Manumpak Pane menyatakan, saat ini tim penyelidik kejati telah meminta keterangan dari 28 orang sebagai saksi dan sudah mengarah pada calon tersangka, namun penetapan tersangka harus dilakukan sesuai alat bukti.           

Dari 28 saksi yang dimintai keterangan diantaranya mantan Wali Kota Ambon, mantan Kadishub Ambon, pegawai Dishub provinsi, konsultan, hingga pihak penyedia barang dan jasa.

Menurut Manumpak Pane, hasil pengusutan ada indikasi calon tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana pembangunan Terminal Transit Passo senilai Rp55,344 miliar. Paling lambat awal Agustus sudah ada calon tersangka yang akan di ekspose oleh Kejaksaan Tinggi Maluku

Untuk membuat kasus ini terang benderang, tim penyidik menyambangi salah satu konsultan perencanaan yang berdomisili di Makasar. Konsultan tersebut diketahui  terlibat dalam proyek pembangunan Terminal Transit Passo sejak tahun 2007 hingga 2015.

Dalam menghitung kerugian negara Kejati juga melibatkan BPKP RI Perwakilan Provinsi Maluku guna melakukan audit proyek pembangunan Terminal Transit Passo.

Terminal Transit Passo merupakan salah satu mega Proyek Pemerintah Kota Ambon yang digagas Pasangan Walikota –Wakil Walikota Ambon Markus Jacob Papilaya dan Olivia Latuconsina.

Tahun 2007, Pemkot Ambon mengalokasikan anggaran sebesar Rp.7 miliar lebih untuk pembangunan tahap awal yakni pembebasan lahan, penggusuran dan pembersihan lokasi.

Tahun 2008, Pemkot kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp.12 miliar untuk pembangunan tahap ke II yakni penimbunan, pekerjaan dasar dan penimbunan serta pengecoran tiang pancang.

Di tahun 2009, pemkot menyediakan anggaran sebesar Rp 14 miliar pekerjaan tahap III yakni pengecoran lantai dan sebagian dinding beton gedung terminal. Pekerjaan ditangani PT Reminal Utama Sakti.

Tahun 2010, rencana pembangunan tahap IV dengan anggaran Rp 21 miliar untuk penyelesaian gedung A, batal terwujud karena pemkot mengalami defisit. Sehingga, pekerjaan  terhenti sampai tahun 2014.

Pemkot kemudian mengusulkan kepada pemerintah pusat agar ada kucuran anggaran. Namun, permintaan itu tidak disetujui, karena itu, Pemkot lagi-lagi meneteskan  kembali alokasi anggaran melalui  APBD Kota Ambon tahun 2014 sebesar Rp 1,5 miliar untuk pembangunan tower terminal.

Pemerintah pusat baru mengabulkan permintaan anggaran lanjutan pembangunan dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp.4 miliar lebih pada tahun 2015, guna merampungkan beberapa bagian gedung di dalam terminal, diantaranya ruang tunggu, kantin, ruang monitoring dan ruang loket.

PT Reminal Utama Sakti kembali diberikan kepercayaan untuk menangani pekerjaan ini dengan masa kontrak sampai Desember 2015.

Kemudian di tahun 2016, Pemprov Maluku juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2 milar lebih untuk membangun pagar setinggi 2.5 meter mengelilingi terminal. Pekerjaan ini ditangani oleh PT Polaris Jaya Sakti.

Pembangunan mega proyek yang dimuali tahun 2007 itu, kini jalan ditempat alias mangkrak. Padahal dana yang digelontorkan dari pemerintah pusat maupun APBD kota Ambon dan Provinsi Maluku tidak tanggung-tanggung,yakni sebesar Rp.55,344 miliar. Kenyataanya 10 tahun berjalan, pembangunan Terminal Transit Passo belum juga rampung.DMS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *