Di Jawa Barat, Gafatar Ada di Semua Wilayah

Bandung – Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Sulistio Pudjo mengatakan keberadaan kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Jawa Barat sudah menjamur hampir di setiap wilayah.

“Di setiap wilayah sudah ada. Hanya, polisi tidak bisa bergerak sendiri untuk menindaknya,” katanya kepada Tempo, Rabu, 13 Januari 2016.

Ia mengatakan Gafatar sudah banyak merekrut masyarakat di wilayah Jawa Barat. Untuk mengajak masyarakat bergabung dengan kelompok tersebut, ujar Pudjo, kelompok tersebut melakukan pendekatan dengan pola kegiatan keagamaan, seperti diskusi dan dakwah. “Bahkan ada yang, setelah dikasih minum, langsung pergi meninggalkan keluarganya,” tuturnya.

Menurut Pudjo, Gafatar merupakan organisasi masyarakat yang ditumpangi kelompok keagamaan sesat. Mereka berkamuflase menjadi lembaga swadaya masyarakat agar keberadaannya bisa diterima negara dan kalangan agamawan. “Mereka itu orang-orangnya Al-Qiyadah al-Islamiyah bentukan Ahmad Musadeq. Yang sekarang, orangnya itu-itu juga,” ujarnya.

Kendati demikian, ia mengatakan, masyarakat di Jawa Barat yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya yang terindikasi dibaiat Gafatar baru satu orang.

Polda Jawa Barat menerima laporan dari seorang warga Kabupaten Garut, Heriyadi, yang kehilangan istri dan dua anaknya sejak 28 Desember 2015. Dalam laporan tersebut, Heriyadi melaporkan bahwa istrinya, Winarti, 42 tahun, serta dua anaknya, Sri Putri Rahma, 17 tahun, dan Andi Permana, 10 tahun, tak diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Dugaan istri dan kedua anaknya telah bergabung dengan Gafatar terindikasi melalui catatan harian sang istri yang menulis tentang Gafatar.

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer III Siliwangi Kolonel Arm Robertson mengatakan pihaknya akan mengantisipasi masifnya gerakan Gafatar di Jawa Barat. Ia mengatakan akan melibatkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) di setiap wilayah untuk mendeteksi perekrutan oleh Gafatar di wilayahnya. “Upaya pencegahan, kami adakan terus komunikasi dengan warga agar tidak mudah terpengaruh ajaran itu,” katanya. TEMPO.CO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *