[ad_1]
- Penulis, Anna Foster
- Peranan, BBC News
- Melaporkan dari Samandag, Turki
Rumah Songul Yucesoy rubuh setelah diguncang gempa berkekuatan 6,4 sebulan yang lalu
Songul Yucesoy mencuci piring dan peralatan bekas makannya dengan hati-hati. Ini adalah pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya biasa-biasa saja, namun kali ini Songu melakukannya di luar, di bawah bayang-bayang rumahnya yang telah rusak akibat gempa.
Rumah itu miring mencapai sudut yang mengkhawatirkan. Kusen jendela menggantung dan sebagian besar atap besinya yang berkarat kini tergeletak di taman.
Satu bulan setelah gempa dahsyat di Turki dan Suriah, mereka yang selamat menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu persoalan paling serius adalah menemukan tempat yang aman untuk ditinggali.
Setidaknya 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal dan terlunta-lunta. Belum jelas berapa lama lagi mereka bisa mendapatkan tempat berlindung yang layak.
Badan penanggulangan bencana Turki, Afad, mengatakan dua juta orang telah meninggalkan area terdampak gempa. Sebagian tinggal dengan teman atau orang-orang terdekat mereka di wilayah lain di negara ini.
Penerbangan dan kereta api ke luar dari wilayah itu digratiskan bagi mereka yang ingin pergi.
Namun di Kota Samandag, di dekat pantai Mediterania, Songul memastikan bahwa dia dan keluarganya tidak akan ke mana-mana.
“[Rumah] ini sangat penting bagi kami. Apa pun yang terjadi selanjutnya, bahkan kalau rumah ini runtuh, kami akan tetap di sini. Ini rumah kami. Semua yang kami miliki ada di sini. Kami tidak akan pergi.”
Gempa mematikan di Turki telah menyebabkan rumah-rumah di Samandag hancur, membuat ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal
Tenda-tenda darurat telah banyak berdiri di Samandag, namun orang-orang masih membutuhkan lebih banyak tenda lagi
Perabotan berharga telah telah mereka keluarkan dengan hati-hati dari dalam rumah untuk dipasang di luar. Di atas meja nakas kayu terdapat suvenir liburan serta gambar yang terbuat dari kerang dari sebuah resor di Kusadasi. Ada pula semangkuk buah dengan jeruk yang mulai berjamur.
Hal-hal yang semestinya terasa normal di dalam ruangan menjadi aneh dan tidak pada tempatnya ketika berada di jalan.
Saat ini, seluruh keluarganya tinggal di tiga tenda di pinggir jalan, yang berjarak hanya beberapa langkah dari rumah mereka yang rusak.
Di sanalah mereka tidur dan makan, berbagi makanan yang dimasak di atas kompor kecil yang biasanya digunakan untuk berkemah.
Tidak ada toilet yang layak, meskipun mencoba mengeluarkan satu toilet dari kamar mandi dan mencoba memasangnya ke dalam bilik kayu darurat.
Mereka bahkan membuat area khusus shower kecil. Namun itu semua seadanya. Tenda-tenda yang sempit dan penuh sesak ini menunjukkan kurangnya ruang bagi privasi.
Ini merupakan masa-masa yang menyiksa bagi Songul. Sebanyak 17 kerabat mereka tewas akibat gempa tersebut. Adiknya, Tulay, dinyatakan hilang.
“Kami tidak tahu apakah dia masih di bawah reruntuhan,” kata dia.
“Kami tidak tahu apakah jenazahnya sudah dibawa keluar atau belum. Kami masih menunggu. Kami tidak bisa berkabung. Kami bahkan tidak bisa menemukan dia yang hilang.”
Kursi-kursi di kereta kini menjadi tempat tidur bagi sejumlah orang
Kakak ipar Songul, Husemettin, dan keponakannya yang berusia 11 tahun, Lozan, meninggal ketika gedung apartemen mereka di Iskenderun runtuh saat mereka sedang tidur.
Kami mengunjungi reruntuhan bangunan itu. Tetangga sekitarnya mengatakan bahwa flat yang terdiri dari tiga blok itu telah hancur.
“Kami membawa jenazah Lozan ke sini,” kata Songul.
“Kami menjemputnya dari kamar jenazah dan menguburkannya di dekat kami di Samandag. Husemettin dimakamkan di pemakaman orang-orang yang tidak diketahui, kami menemukan namanya ada di sana.”
Sebuah foto dari keluarga yang tampak tersenyum pada profil Facebook Tulay yang masih aktif menunjukkan mereka saling berpelukan dan wajah mereka berdekatan. Lozan memegang erat sebuah balon merah.
Krisis tunawisma yang disebabkan oleh gempa Turki sangat akut karena kurangnya ruang aman yang tersisa.
Lebih dari 160.000 bangunan runtuh atau rusak parah. Lembaga Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memperkirakan setidaknya 1,5 juta orang masih berada di dalam zona gempa, namun tidak memiliki tempat tinggal.
Sulit untuk mengetahui angka pastinya, namun bisa jadi jumlahnya lebih banyak dari itu.
Ruang belajar darurat akan segera tiba, namun terlambat. Tenda-tenda telah berdiri di mana-mana, mulai di perkemahan baru yang luas hingga perkemahan individual yang tersebar di antara puing-puing. Tetapi itu pun belum cukup.
Berita bahwa Bulan Sabit Merah Turki –lembaga kemanusiaan terbesar di Turki—telah menjual sebagian dari stok tenda yang didanai menggunakan uang pajak kepada sebuah lembaga amal –meskipun dengan harga yang mahal—telah membuat masyarakat frustasi dan marah.
Di beberapa kota, warga bahkan masih tinggal di dalam gedung-gedung publik.
Banyak keluarga berbagi tenda setelah berminggu-minggu sejak gempa terjadi
Di Adana, saya bertemu dengan keluarga-keluarga yang tidur di atas selimut dan kasur yang mereka bentangkan di lapangan voli.
Sedangkan di kota pelabuhan Iskenderun, orang-orang menjadikan kereta yang diparkir di stasiun menjadi rumah mereka.
Kursi-kursi telah berubah menjadi tempat tidur, rak bagasi diisi dengan barang-barang pribadi, dan para petugas di sana berupaya keras untuk tetap menjaga kebersihan. Seorang gadis kecil berurai air mata sambil memeluk bantal alih-alih boneka beruang. Ini bukan rumah.
Anak-anak Songul pun kesulitan. Mainan-mainan mereka terjebak di dalam rumah. Sekolah pun tidak lagi ada.
“Mereka bosan, tidak ada yang menyibukkan mereka. Mereka hanya duduk-duduk. Mereka hanya memainkan ponsel mereka, lalu tidur lebih awal setelah baterai habis.”
Begitu malam tiba, segalanya menjadi lebih sulit. Listrik belum menyala di Samandag. Songul memasang lampu bertenaga surya warna-warni di tenda putih mereka, tepat di atas logo UNHCR yang tebal.
Mereka telah menjadi tunawisma di negara mereka sendiri. Mereka bukan pengungsi, tapi mereka kehilangan segala-galanya.
Songul mengatakan keluarganya kini hidup dalam ketakutan, gempa susulan yang masih sering terjadi kerap membangunkan mereka pada malam hari
“Saya meletakkan lampu di sini untuk bisa dilihat,” jelas Songul.
“Kami takut saat gelap. Tidak adanya listrik adalah masalah besar bagi kami. Kami sangat ketakutan, dan sepanjang malam kami merasakan gempa susulan, jadi sulit untuk tidur,” kata dia sambil menangis, lalu menyeka air mata dengan tangannya.
“Kami adalah orang-orang yang bebas, kami terbiasa dengan kebebasan, kemandirian, setiap orang tinggal di rumahnya sendiri,” tambah suaminya, Savas.
“Tapi sekarang kami, tiga keluarga, makan di satu tenda, tinggal dan duduk di satu tenda.”
“Ini semua adalah pengalaman baru bagi kami, kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Selalu ada ketakutan. Rumah kami telah runtuh, apa yang akan terjadi selanjutnya? Kami tidak tahu.”
[ad_2]
Source link