Mengapa Harga Bahan Kebutuhan Pokok di Papua Amat Mahal?

Wamena – Sudah bukan rahasia kalau harga bahan-bahan kebutuhan pokok, termasuk makanan, di Papua jauh lebih mahal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Ketika Tempo berkunjung ke Papua, pertengahan Desember 2015, harga seporsi nasi pecel standar dengan ikan goreng harus ditebus dengan uang Rp 70-75 ribu. Padahal makanan yang sama di Jakarta hanya dihargai Rp 15-20 ribu. Apa kira-kira penyebabnya?

Theo Hesegem, anggota Tim Peduli Hak Asasi Manusia Pegunungan Tengah Papua, menjelaskan bahwa mahalnya harga-harga kebutuhan masyarakat di Pegunungan Tengah  disebabkan langkanya bahan bakar minyak. Kalaupun ada BBM atau bensin di tengah warga, harganya pasti selangit. “Ini sudah lama terjadi, membuat masyarakat di Pegunungan Tengah merasakan adanya diskriminasi ekonomi dibandingkan masyarakat Indonesia di wilayah lain,” kata Theo.

Dia membenarkan bahwa bahan-bahan kebutuhan masyarakat banyak diangkut menggunakan pesawat. BBM juga diangkut dengan pesawat. Ini memperparah lonjakan harga berbagai bahan pokok di pedalaman Papua. Harga bahan bakar pesawat yang mahal membuat semua harga bahan kebutuhan masyarakat yang diangkut lewat udara–termasuk BBM–melonjak tak terkendali. 

Menurut Theo, warga biasanya membeli BBM untuk sepeda motor dan angkutan umum dari pedagang eceran. Sebab, tidak tersedia stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) resmi Pertamina di Wamena maupun Tolikara. 

Alhasil, ketika dijual di masyarakat, harga BBM melambung sampai Rp 40-60 ribu per liter. Itu pun tak selalu tersedia. Masyarakat Pegunungan Tengah Papua harus bersabar berhari-hari  untuk mendapatkan pasokan BBM.

“Jika di Jakarta, orang bicara bensin oktan 80, 90, di sini kita bisa dapat bensin saja sudah syukur,” ujar Nico Hasage, sopir taksi rute Wamena-Tolikara.

Nico mengemudikan taksinya dengan rute Wamena-Tolikara pulang-pergi sekitar 300 kilometer. Jika kehabisan bensin di tengah perjalanan, dia dan penumpangnya akan menginap di tengah hutan. Biasanya, dalam sepekan, pasti ada saja mobil yang membawa pasokan BBM dari desa atau distrik terdekat melintasi jalan itu. “Tunggu saja,” tutur Nico. TEMPO.CO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *