Mengapa Pemeriksaan di Bandara Menjengkelkan?

Kini tengah hangat diberitakan tentang ibu-ibu, konon isteri pejabat, yang menempeleng petugas di bandara saat melewati pemeriksaan masuk terminal keberangkatan pesawat.

Hanya berselang beberapa saat saja, ponsel saya “hang” dengan demikian banyak masuk “call”, dan juga WA (whatsapp) yang ingin mendengar komentar saya tentang hal tersebut.

Hal yang biasa, selama lebih dari 10 tahun belakangan ini bila ada kejadian apapun di dunia penerbangan, terlebih bila terjadi kecelakaan, maka saya “sepertinya” dikirimi berita sms (short message service) dan atau WA pada menit-menit pertama.

Diikuti kemudian dengan bertubi-tubi pertanyaan berkait dengan hal tersebut.

Radio DMS Menyajikan: Berita AmbonBerita MalukuMedia di AmbonMedia di Maluku

Belakangan ini sudah agak banyak orang lain yang telah memiliki kepedulian terhadap dunia penerbangan kita.

Jadi saya pikir cukup saya memonitor saja dan memberikan saran langsung kepada teman-teman yang memiliki kompetensi untuk sekadar berkontribusi dalam paket pemecahan masalah kita bersama.

Saya merasa sudah cukup berbagi dalam dunia penerbangan kita selama ini. Bila ada yang penting saja saya menghubungi teman-teman yang bergelut didunia aviasi yang kita cintai ini.

Kembali pada kejadian yang dialami petugas Aviation Security Bandara pada hari kemarin itu, karena saya tidak memiliki data yang lengkap tentang kejadiannya, agak sulit juga saya untuk dapat memberikan komentar.

Dalam kesempatan ini saya tergerak untuk sekadar berbagi pada semua pihak yang telah menghubungi untuk memperoleh tanggapan saya tentang kejadian tersebut.

Disiplin tanpa syarat

Dunia penerbangan adalah sebuah lingkungan yang sangat erat berhubungan dengan produk dari teknologi mutakhir.

Hal itu menyebabkan semua orang yang bergiat dalam lingkungan yang “hi-tech” dituntut untuk memiliki disiplin yang tinggi terlebih dahulu.

Disiplin dibutuhkan dengan tanpa syarat. Kenapa? Karena semua yang berhubungan dengan teknologi terutama teknologi mutakhir harus secara ketat mengikuti aturan main yang memagarinya dengan sangat ketat.

Diabaikan sedikit saja aturan, ketentuan, regulasi, prosedur dan atau tatacara dalam beraktivitas, maka itu berarti membuka pintu untuk terjadinya kecelakaan.

Itu pula sebabnya dalam dunia penerbangan dikenal sebagai dunia yang diawasi dengan ketat oleh para inspektor penerbangan.

Dunia penerbangan memang sebuah dunia yang sangat hitam putih dalam konteks mematuhi aturan, ketentuan dan atau regulasi yang diberlakukan.

Nah, dalam konteks inilah maka penerapan dari aturan-aturan yang ada secara otomatis membuat para pengguna jasa angkutan udara menjadi merasa “tidak-nyaman”.

Padahal sebenarnya, ketidak-nyamanan yang terjadi itu justru bertujuan untuk keselamatan penerbangan. Sasaran utamanya adalah keselamatan dari para pengguna jasa angkutan udara sendiri. Pemahaman ini seringkali kurang dimengerti oleh para penumpang.

Radio DMS Menyajikan: Berita AmbonBerita MalukuMedia di AmbonMedia di Maluku

Dari sudut pandang penumpang, biasanya selalu muncul sikap tidak senang bila diperlakukan sebagai orang yang dicurigai membawa barang-barang yang dilarang.

Saya kan naik pesawat ini “bayar”, kenapa harus diperlakukan sebagai orang yang dicurigai membawa barang-barang berbahaya atau dilarang?

Saya kan sudah sering bepergian naik pesawat, bukan pertama kali ini saja. Saya kan sering keluar negeri.

Saya tau kok aturan bepergian dengan pesawat terbang. Harusnya kan bisa dilihat siapa-siapa penumpang yang patut dicurigai atau tidak, dan beragam pandangan lainnya.

Secara psikologis, para penumpang memang akan selalu ingin buru-buru untuk cepat naik pesawat dan sampai di tujuan.

Pada saat yang bersamaan semua petugas dalam bisnis penerbangan terikat ketat dengan “time-schedule” agar setiap penerbangan dapat berlangsung “on-time”.

Tidak tersedia waktu yang cukup untuk beramah tamah dan atau berbasa-basi dalam menjalankan tugas.

Pada titik inilah bertemu dua kepentingan yang sangat jauh berbeda dan cenderung berlawanan antara penumpang pesawat terbang dengan petugas pengawal keamanan dan keselamatan penerbangan.

Bila kita ingin mencermati permasalahan ini dengan kepala dingin, maka insiden sejenis ini berpotensi terulang di masa mendatang.

Kita tahu peristiwa samacam itu bukan yang pertama. Pemeriksaan penumpang pesawat terbang sangat tidak “disukai” oleh kebanyakan penumpang. Pemerikasaan kerap dirasa sebagai sangat berlebihan dilakukan dan mengganggu kenyamanan.

Pemeriksaan penumpang yang “super-ketat” bermula dari kerap terjadinya pembajakan pesawat terbang oleh kelompok teroris.

Titik puncak dari sikap untuk mewaspadai teror di udara mengalir deras sejak terjadinya peristiwa 911 yang memakan korban ribuan nyawa dari orang-orang yang tidak berdosa.

Sejak peristiwa 911 di tahun 2001 seluruh pola pemeriksaan keamanan dan keselamatan terbang terutama dalam kegiatan penerbangan sipil komersial berubah secara drastis.

Ketakutan orang akan berulangnya peritiwa 911 telah menjadikan tata cara prosedur pemeriksaan barang dan orang pengguna jasa angkutan udara menjadi “super-ketat” dan bahkan terasa berlebihan.

Bepergian dengan penerbangan sipil komersial di seantero dunia, terutama di atau ke Amerika dan Eropa ditahun-tahun awal 2000-an menjadi amat sangat tidak menyenangkan.

Antrean panjang di hampir semua bandara internasional terjadi di mana-mana terutama untuk tujuan Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Hampir semua rute internasional mengalami delay yang sangat menjengkelkan karena lamanya urusan pemeriksaan barang dan penumpang yang cenderung bertele-tele dan sangat tidak bersahabat.

Itulah yang terjadi.

Dengan berjalannya waktu mekanisme yang sangat menjengkelkan pasca 911 kini sudah jauh berkurang. Akan tetapi tetap saja proses “security-check” di bandara terlebih di bandara international memang sudah telanjur berpola seperti itu.

Pemeriksaan melalui “Xray-Gate” yang mengharuskan orang buka sabuk, buka jam tangan dan bahkan buka sepatu sangat sulit dapat dipahami dengan baik oleh para penumpang. Terlebih ada airport yang memang mengharuskan seketat itu tetapi ada juga yang tidak seperti itu.

Mengapa hal itu harus dilakukan?

Penjelasan mengenai hal ini harus diakui memang hampir dapat dikatakan tidak ada. Di balik semua ketidaknyamanan yang kita alami sebagai penumpang selama ini, syukur alhamdulillah, kejadian 911 memang tidak terulang kembali.

Idealnya, para penumpang dapat memahami bahwa seluruh proses yang dirasa tidak nyaman tersebut terkait dengan keselamatan terbang. Di balik ketatnya pemeriksaan, tujuan utama sebenarnya adalah menjamin keselamatan para penumpang.

Di pihak lain, para profesional penyelenggara keamanan penerbangan dituntut pula untuk bersikap dan bertindak secara proporsional dalam menjalankan tugas di tengah keterbatasan waktu yang tersedia.

Dalam konteks ini, kita berharap sikap saling menghargai antara para pengguna jasa angkutan udara dan pihak penanggungjawab keselamatan dan keamanan terbang dapat terbangun dengan baik.

Selama kita mau untuk saling menghargai satu sama lain maka tidak akan ada kejadian apapun yang tidak menyenangkan, apalagi kejadian yang “menjengkelkan”.

Saya ingin menutup uraian ini dengan mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Albert Einstein:

“I speak to everyone in the same way, whether he is the garbage man or the president of the university.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *