OJK: Industri Perbankan Maluku Tumbuh 12 Persen

Ambon-Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku optimistis industri perbankan di wilayah ini mencapai target pertumbuhan sebesar 12 persen pada 2017.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Maluku Bambang Hermanto, di Ambon, Rabu, mengungkapkan industri perbankan Maluku pada posisi Agustus 2017 tercatat meningkat 12,72 persen (yoy) atau senilai Rp1,20 triliun sehingga menjadi Rp10,61 triliun.

Pertumbuhan tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan posisi Juli 2017 yang tercatat sebesar 11,56 persen (yoy), dan lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional yang tercatat masih sebesar 8,29 persen,” katanya.

Menurut dia, pertumbuhan kredit secara nasional masih satu digit tetapi di Maluku sudah menyentuh angka dua digit. Di tengah perjalanan 2017 menunjukkan optimisme dan komitmen kuat sektor jasa keuangan khususnya perbankan dalam mendukung peningkatan perekonomian di wilayah Maluku.

Sementara kredit konsumtif masih menjadi “leading” sektor yang mendorong peningkatan penyaluran kredit mencapai 69,00 persen.

Tercatat dari enam sektor konsumtif, yang meningkat empat sektor yakni sektor bukan lapangan usaha lainnya meningkat sebesar Rp423,93 miliar atau 15,66 persen  dan sektor rumah tangga untuk pemilikan peralatan rumah tangga lainnya meningkat sebesar Rp421,76 miliar atau 14,21 persen.

Selanjutnya sektor rumah tangga untuk pemilikan rumah tinggal meningkat sebesar Rp123,01 miliar atau 21,26 persen dan sektor untuk pemilikan kendaraan bermotor meningkat sebesar Rp11,40 miliar atau 27,45 persen.

Kredit pemilikan apartemen/flat dan kredit pemilikan ruko/rukan menurun. Namun demikian sektor ekonomi produktif juga menunjukan kontribusi yang terus meningkat, seperti terlihat pada sektor perdagangan besar dan eceran yang meningkat sebesar Rp215,61 miliar atau 10,82 persen.

Sektor akomodasi dan penyediaan makan minum meningkat sebesar Rp34,29 miliar atau 25,99 persen, sektor industri pengolahan meningkat sebesar Rp32,75 miliar atau 50,00 persen, sektor pertanian, perburuan dan kehutanan meningkat sebesar Rp26,58 miliar atau 28,89 persen.

Sektor perikanan meningkat sebesar Rp5,68 miliar atau 10,41 persen dan sektor produktif lain yang tumbuh positif adalah sektor jasa pendidikan dan sektor jasa kesehatan sertta kegiatan sosial.

Sementara itu, kata Bambang kualitas kredit pada posisi Agustus 2017 terpantau cukup baik dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 1,36 persen sedikit membaik dibandingkan dengan posisi Juli 2017 yang tercatat sebesar 1,47 persen.

“Kondisi tersebut terhitung masih jauh dibawah NPL Nasional sebesar 3,12 persen,” ujarnya.

Sedangkan penyaluran kredit KUR dan UMKM pemerintah, pihaknya terus memantau penyaluran sehingga dapat terserap maksimal untuk pengusaha kelas menengah ke bawah.

“Posisi Agustus 2017 penyaluran kredit UMKM meningkat sebesar 5,47 persen (yoy) atau sebesar Rp140,84 miliar dari Rp2,57 triliun sehingga menjadi Rp2,72 triliun,” ungkap Bambang.

Perkembangan ini, lanjutnya sedikit melambat dibandingkan posisi Juli 2017 yang tercatat sebesar 6,88 persen (yoy). Untuk penyaluran kredit UMKM masih sebagian besar disalurkan kepada usaha kecil yang mencapai Rp1,17 triliun atau sebesar 42,90 persen dari total kredit UMKM.(DMS-Antara)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *