OJK: Penyaluran KUR Sektor UMKM 31.145 Rekening

Ambon – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku mencatat, pada posisi September 2017, bank-bank pelaksana KUR telah menyalurkan kepada sektor UMKM sebanyak 31.145 rekening dan baki debet penyaluran KUR sebesar Rp449,86 Miliar.

Baki debet adalah besaran sisa pijaman pokok tanpa bunga pada waktu tertentu.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Maluku, Bambang Hermanto, di Ambon, Rabu,mengungkapkan, jumlah rekening KUR posisi September 2017 meningkat dibandingkan dengan posisi Desember 2016 yang tercatat sebanyak 23.817 rekening dengan nominal baki debet penyaluran KUR sebesar Rp364,43 miliar.

“Pertumbuhan KUR sebesar Rp85,42 miliar atau 23,44 persen (ytd) tersebut diimbangi dengan kualitas kredit yang terjaga cukup baik dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,42 persen,” kata Bambang.

Menurut dia penggunaan KUR banyak dimanfaatkan oleh pengusaha mikro dan kecil untuk modal kerja usaha yang mencapai 74,99 persen dari total KUR dengan rincian KUR Mikro-Kredit Modal Kerja sebesar Rp233,88 miliar dan KUR Ritel-KMK sebesar Rp103,48 miliar.

Sementara untuk kegiatan investasi relatif masih kecil yakni 25,01 persen dengan rincian KUR Mikro-Kegiatan Investasi I sebesar Rp92,35 miliar dan KUR Ritel-Kegiatan Investasi sebesar Rp20,15 miliar.

Karena itu total penyaluran terbesar berdasarkan jenis KUR berada pada KUR Mikro sebesar Rp326,23 miliar atau 72,52 persen dari total penyaluran KUR dan sisanya KUR Ritel. KUR Mikro diberikan dengan plafon maksimal Rp25 juta sedangkan KUR Ritel diberikan dengan plafon Rp25 juta sampai dengan Rp500 juta.

Menurut Bambang kualitas kredit UMKM dan KUR dinilai masih cukup baik. NPL kredit UMKM posisi Agustus 2017 tercatat sebesar 3,48 persen, sedikit membaik dibandingkan posisi bulan sebelumnya sebesar 3,84 persen, masih berada di bawah NPL kredit UMKM Nasional yang tercatat sebesar 4,31 persen dan NPL indikatif nasional maksimal sebesar 5 persen.

Sedangkan NPL KUR posisi September 2017 sedikit meningkat dibandingkan dengan posisi Agustus 2017 yakni dari 2,30 persen menjadi 2,42 persen.

“Hal ini tentu perlu mendapat perhatian dari bank-bank pelaksana KUR agar tetap dapat mengendalikan risiko kredit KUR.

Sementara itu, pembiayaan Bank Syariah posisi Agustus 2017 semakin menunjukkan perkembangan positif yakni tumbuh sebesar 37,49 persen (yoy) atau senilai Rp36,89 miliar sehingga menjadi Rp135,32 miliar dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 0,90 persen.

“Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi Juli 2017 yang tercatat sebesar 36,08 persen (yoy). Sampai dengan saat ini kontribusi pembiayaan konsumtif masih mendominasi yakni 87,10 persen terhadap seluruh total pembiayaan,” ungkap Bambang.

Hal yang sama juga terlihat dari penyaluran kredit di lembaga pembiayaan atau lembaga finance yang menunjukkan pertumbuhan positif, yakni meningkat sebesar 8,89 persen (yoy) atau senilai Rp42,99 miliar sehingga menjadi Rp526,67 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi Juli 2017 yang  tercatat meningkat sebesar 7,26 persen (yoy).(DMS-Antara)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *