Politisi PAN Ibrahim Tuasamu "Legowo" Putranya Meniti Karir Di Jalur Musik

Ambon-Tokoh Politik asal Maluku Ibrahim Tuasamu, tidak ingin menjustifikasi  anaknya, Imam Syraif Tuasamu, untuk mengikuti jejaknya terjun kedalam dunia politik, sekalipun  dirinya merupakan salah satu petinggi Politik di Partai Amanah Nasional  (PAN).

Sebagai orang tua yang pernah merasakan susahnya mencari nafkah dengan berjualan dipasar, dia tidak ingin anaknya gagal dalam meniti karir dalam dunia musik.

Melihat potensi anaknya di bidang musik, sebagai seorang ayah yang baik, Ibrahim Tuasamu memberikan kesempatan kepada putranya untuk memilih jalan karir sesuai dengan talenta musik yang ada pada anaknya.

Politisi yang akrab disapa Om ini ini, disela sela hearing dengan sejumlah wartawan dalam rangka rencana Lounching Album Mollucent menyatakan, memberikan dukungan terhadap karier putranya itu di jalur musik, hal ini terlihat saat dirinya bertindak langusng sebagai Produser Mollucent.

Sebagai seorang ayah sekaligus Producer Mollucent, Ibrahim Tuasamu siap memfasilitasi dan mensuport Imam, Zul dan Satrio, agar musik etnis Maluku yang mereka geluti semakin dikenal, tidak saja di Indonesia tetapi juga internasioanl sekaligus membantu Pemerintah Kota, mewujudkan Kota Ambon menuju kota Musik Dunia.

Sebagai pendatang baru dalam dunia tarik suara, nama Mollucent memang belum banyak dikenal publik. Namun siapa sangka keinginan kuat Imam Syarif Tuasamu, yang lahir dan besar di  Ibukota Jakarta selama kurang lebih 20 tahun berbuah manis melalui lagu  “Matahari Sore”.

Lagu bertajuk “Matahari Sore” dijagokan dalam album perdana Group Band Mollucent yang di jadwalkan dirilis Agustus 2017 mendatang.

Historis Lagu “Matahari Sore” aslinya berjudul “Nafas di Maluku” diciptakan oleh Zul Karepesina karena rindu terhadap tanah kelahiran Maluku, saat berada di tanah perantauan.

Imam Syarif mengakui, tertarik, saat pertama kali mendengarkan lagu Nafas Maluku ketika dinyanyikan oleh Zul pada sebuah acara keluarga.

Menurut Imam, penggarapan lagu ini juga melibatkan beberapa musisi band ternama di Jakarta.

Imam mengakui, selama hampir 10 tahun berkecimpung di dunia musik, kali ini Mollucent merasakan desakan yang berbeda karena hasrat ingin pulang kampung  untuk membangun daerah ini melalui musik yang bernyawa  dengan kearifan lokal daerah Maluku.

Menyadari ketatnya persaingan musik lokal di Maluku, tidak menciutkan nyali Mollucent yang di motori front man Imam Syarif Tusamu, Zul Karepesina dan Satrio Busono, untuk ingin terus berkarya. Bagi Mollucent tidak ada kata persaingan sesama musisi dan artis di Maluku justru yang ingin di kedepankan oleh Mollucent adalh menyandingkan warna musik baru sesuai kearifan lokal dan budaya pela gandong.DMS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *