Lumajang, Jawa Timur – Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, mengumumkan bahwa Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas erupsi dan guguran lava, berdasarkan evaluasi mingguan pada periode 23-30 Juni 2024. Hendra memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memicu awan panas sewaktu-waktu.
“Aktivitas Gunung Semeru dalam periode tersebut menunjukkan erupsi, awan panas, dan guguran lava masih terus terjadi, meskipun jarang terlihat karena cuaca berkabut,” kata Hendra dalam keterangan tertulis yang diterima di Kabupaten Lumajang, Selasa.
Hendra menjelaskan bahwa akumulasi material hasil erupsi, termasuk letusan dan aliran lava, serta pembentukan “scoria cones” dapat berubah menjadi guguran lava pijar atau awan panas. Material ini kemudian mengendap di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, berpotensi menjadi lahar saat berinteraksi dengan air hujan.
“Interaksi antara endapan material guguran lava atau awan panas yang bersuhu tinggi dengan air sungai juga berpotensi menyebabkan erupsi sekunder,” tambahnya.
Pada periode tersebut, aktivitas kegempaan Gunung Semeru juga tercatat masih tinggi, dengan gempa letusan, guguran, harmonik, dan vulkanik dalam yang sering terjadi. Selain itu, getaran banjir yang terekam menunjukkan adanya lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama di aliran Besuk Kobokan.
“Berdasarkan analisis dan evaluasi hingga 30 Juni 2024, tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada level III atau siaga, dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan ancaman bahaya terkini,” ujar Hendra.
PVMBG merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terkena perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, warga juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap lontaran batu pijar.
Masyarakat diminta untuk terus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga perlu diwaspadai pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan. DMS/AC