Ruhulesin Akhiri Masa Jabatan Sebagai Ketua Sinode GPM

Ambon-Ketua Sinode GPM, Pdt. Jhon Ruhulesin mengakhiri masa jabatan sebagai ketua sinode GPM seirama dengan dibukanya sidang Sinode GPM 2016 ke 37 yang berlangsung di Gereja Marantha,Minggu pagi.

Dalam pidatonya Ruhulessin mengajak semua jemaat menaikkan ungkapan syukur kepada Tuhan bahkan dirinya secara pribadi dan keluarga mengucap syukur karena telah dipercayakan melayani GPM selaa 10 tahun.

Ditambahkannya, ucapan syukur kepada Tuhan syukur karena meminiliki kebanggaan dimana jemaat GPM terus mengembangkan ketahan diri, spritualitas, maupun ketahanan social ekonomi walau diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan kendala namun terus ada pembaharuan dan inovasi sehingga makin bertumbuh dan berbuat baik untuk gereja maupun bangsa dan negara.

Menurutnya,jemaat GPM merupakan bagian yang utuh  dari negeri-negeri dan desa, sehingga sulit memisahkan jemaat, negeri dan desa karena ketika  membangun jemaat sekaligus membangun negeri dan desa. Ini merupakan keunikan dan tipikal dari GPM sehingga siapapun yang sedang membangun jemaat secara otomatis juga membangun masyarakat dan bangsa.

Jemaat basis pertumbuhan gereja dan kehidupan dimana jemaat sebagai subjek bergereja dan berteologi. Sehubungan dengan hal tersebut dirinya mengharapkan jemaat tetap menjadi basis yang kokoh dalam yang lahir dari kandungan budaya dan pergulatan intensif jemaat  yang ada di Maluku.

Ditambahkannya, realitas jemaat adalah bergaul dengan Allah dimana saja namun jekaat juga  tidak dapat mengelak arus globalisasi yang makin intens, revolusioner dengan komunikasi yang semakin canggih yang menandakan jemaat yang  semakin dinamis dan kompleks  sehingga  perlu disikapi dengan  cerdas terhadap realitas perubahan ini dalam bingkai iman kristiani.

Diakhir pidatonya, Ruhulessin mengingatkan agar jemaat GPM terus berinovasi dan selalu optimis, solid sinergi dalam menjawab apa yang tertulis dalam I Petrus ayat 13 bahwa tiap-tiap orang  mesti memberikan pertanggungjawaban atas pengharapan yang pada-Nya. 

Dirinya juga mengajak agar jemaat GPM tetap  menyikapi kualitas pelayan untuk menghadapi dan mengelola semua perubahan dengan optimis dan rendah hati karena  di tengah-tengah masyarakat gereja dan negara adalah dua entitas yang berbeda namun mesti di muarakan pada kepentingan etik kemanusiaan sehingga dapat menjadi gereja yang sejati.DMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *