USAID Bangun Ketangguhan Bencana Masyarakat Maluku

Ambon – Badan pembangunan internasional Amerika Serikat (USAID) melalui program Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) membangun ketangguhan masyarakat di provinsi Maluku.

Pelaksana Direktur Misi USAID Ryan Washburn mengatakan, pihaknya telah memfasilitasi pelaksanaan kajian kerentanan dalam rangka meningkatkan ketangguhan Provinsi Maluku dalam menghadapi risiko bencana dan iklim seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, abrasi, dan lainnya.

“Berbagai kajian yang telah dilakukan menjadi pondasi penting untuk perencanaan pembangunan, dengan memperhitungkan risiko dan ancaman yang ada, diharapkan dapat meningkatkan ketangguhan dalam menghadapi bencana dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya saat melakukan kunjungan ke negeri Allang Pulau Ambon, Senin.

Menurut dia, sejumlah kajian yang telah dilaksanakan diantaranya kerentanan dan risiko iklim Provinsi Maluku dan lanskap Ambon serta Kepulauan Lease, penilaian dampak iklim terhadap komoditas pala dan cengkeh, serta ketersediaan air bersih.

Penilaian ketangguhan bencana dilakukan Kota Ambon, Kabuaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Kepulauan Aru, serta di 12 negeri wilayah kerja Usaid Apik yang tersebar di Pulau Ambon (tujuh negeri), Pulau Haruku (dua negeri), Pulau Saparua (dua negeri), dan Pulau Nusalaut (satu negeri) Kunjungan yang dilakukan ke negeri Alang, untuk mendapatkan informasi langsung mengenai risiko bencana dan iklim yang dihadapi, serta kearifan lokal nanaku yang mengobservasi fenomena cuaca dan iklim yang berguna untuk praktik penangkapan ikan dan menentukan musim tanam.

Upaya meningkatkan ketangguhan bencana di Allang pihaknya juga dibantu Yayasan Walang Perempuan,untuk mendapatkan informasi langsung mengenai risiko bencana dan iklim yang dihadapi serta kearifan lokal Nanaku yang mengobservasi fenomena cuaca dan iklim yang berguna untuk praktik penangkapan ikan dan menentukan musim tanam.

Ryan menyatakan, kunjungan secara langsung untuk mengetahui kondisi masyarakat yang rentan terhadap risiko bencana dan iklim serta mempelajari lebih jauh mengenai kearifan lokal nanaku.

“Hasil kunjungan ke Allang cukup banyak yang kita pelajari seperti kondisi talud penangan ombak di pesisir pantai kondisinya kurang baik, selain itu iklim yang berubah-ubah mempersulit nelayan untuk pergi mencari ikan,” ujarnya.

Ditambahkannya, setelah melakukan tinjauan langusung ke lokasi program, pihanya juga akan menyerahkan beberapa dokumen hasil kerja bersama kepada pemerintah daerah di tingkat Provinsi Maluku, Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Kepulauan Aru.

“Besok (Selasa) kami akan menyerahkan dokumen hasil kerja sekaligus penilaian kepada tiga kepala daerah yang menjadi lokasi program di Maluku,” tandasnya.

Dia menambahkan, pada tanggal 11-17 November 2017 Kemendag telah melakukan pemantauan awal harga dan pasokan ke Papua, Maluku, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatra Utara yang mayoritas penduduknya merayakan Natal.

Hasil pemantauan awal tersebut menunjukan secara umum harga Bapok di enam daerah ini relatif stabil.

“Pasokan beras, gula dan minyak goreng, di gudang Bulog Divre setempat cukup untuk memenuhi kebutuhan Natal dan Tahun baru,” ujarnya.(DMS-Antara)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *