Wakil Ketua I DPD-RI Nono Sampono Ingatkan Pers Di Maluku Lebih Objektif Melihat Persoalan Bangsa Secarah Utuh

Ambon-Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI, Nono Sampono mengingatkan insan Persa di kota Ambon dan Maluku tidak melihat berbagai persoalan bangsa yang terjadi akhir-akhir ini secara sepotong-sepotong tetapi secarah utuh, terutama upaya dari golongan sekelompok orang yang ingin meruntuhkan eksistensi Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945 yang menjadi empar pilar kebangsaan.

Hal ini dikatakan Senator asal Maluku Nono sampono sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada puluhan wartawan media cetak dan elektronik di Ambon, Minggu (30/7) .

Insan Pers juga diminta bersama rakyat dan Pemerintah ikut bertanggung jawab secara moral untuk menjaga dan mengawal keutuhan bangsa dan negara dalam bingkai Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) dari ancaman disintegrasi.

Dia berharap, Pers dalam perannya sebagai watchdog (anjing penjaga), harus mampu dan lebih objektif melihat ancaman terhadap desintegrasi bangsa, mengingat besarnya peranan dan tanggung jawab insan pers dalam menyebarluaskan berbagai informasi tentang kehidupan berbangsa dan bernegara kepada masyarakat.

Menurut Nono Smapono, NKRI, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhineka Tunggal Ika merupakan “harga mati” dan jati diri seluruh bangsa Indonesia, sehingga perlu dijaga dan disosialisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Reformasi 1998 yang bergulir saat ini masih jauh dari harapan karena bangsa Indonesia diperhadapkan dengan persoalan besar.  Ada yang hilang dari reformasi dan berakibat  pemahaman orang  mulai berobah menjadi anarkis, marah, traksaksional, bahkan korupsi.

Saat ini ancaman besar yang sedang mengintai keutuhan  kehidupan berbangsa adalah liberalisme dan fundamental mengingat kedua paham ini masuk dalam reformasi oleh karena itu jati diri generai muda harus dikembalikan dengan terus memaksimalkan sosialisasi empat pilar kebangsaan.

Lewat sosialisasi empat pilar kebangsaan Nono Sampono juga mengingatkan, masyarakat Maluku menjadikan Pancasila sebagai rumah bersama kita.

Dia menegaskan, Pancasila bukanlah agama dan tidak bertentangan dengan apapun bahkan dengan agama, karena di dalam Pancasila disebutkan adanya keTuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, musyawarah dan keadilan.DMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *