Jakarta (DMS) – Wanita perlu lebih bijak dalam mengelola stres. Studi terbaru mengungkap bahwa stres berlebih dapat meningkatkan risiko stroke, terutama pada wanita usia 18-49 tahun.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Neurology awal bulan ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres tinggi dengan peningkatan risiko stroke iskemik pada kelompok usia tersebut.
Dalam studi ini, peneliti melibatkan 426 peserta berusia 18-49 tahun yang mengalami stroke iskemik. Kelompok pembanding terdiri dari 426 peserta dengan jenis kelamin sama namun tidak mengalami stroke.
Semua peserta mengisi kuesioner mengenai tingkat stres yang mereka alami dalam sebulan terakhir. Sementara itu, kelompok yang mengalami stroke iskemik juga menjawab pertanyaan tambahan mengenai tingkat stres sebelum mengalami stroke.
Hasil survei menunjukkan bahwa mereka yang mengalami stroke memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Sebanyak 46 persen dari kelompok stroke iskemik melaporkan mengalami stres sedang hingga tinggi. Pada wanita, stres sedang dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hingga 78 persen, sementara stres tinggi meningkatkan risiko sebesar 6 persen.
“Studi kasus-kontrol seperti yang kami lakukan hanya menunjukkan korelasi antara stres dan risiko stroke yang lebih tinggi, bukan hubungan sebab-akibat langsung,” ujar Nicolas Martinez-Majander, penulis utama studi tersebut, seperti dikutip dari Health.
Lantas, mengapa wanita lebih berisiko mengalami stroke akibat stres?
Martinez-Majander dan tim menduga bahwa wanita lebih sering melaporkan stres kronis karena mereka menjalani berbagai peran sekaligus, seperti pekerjaan, keluarga, dan pengasuhan. Selain itu, wanita cenderung lebih terbuka dalam mengungkapkan gejala stres dan masalah kesehatan mental dibandingkan pria.
Dengan temuan ini, para ahli mengingatkan pentingnya manajemen stres yang baik untuk mengurangi risiko penyakit serius, termasuk stroke.DMS/CC