Jakarta (DMS) – Petugas gabungan mengevakuasi warga terdampak banjir di Kelurahan Cakung Barat, Jakarta Timur, akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu dini hari. Selain evakuasi, pemerintah setempat juga membuka dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang rumahnya terendam.
Lurah Cakung Barat, Yasir Habib Putra, mengatakan kondisi warga belum memungkinkan untuk memasak secara mandiri karena genangan air masih tinggi di sejumlah permukiman. Oleh sebab itu, dapur umum dibuka di halaman kantor kelurahan sebagai solusi cepat untuk memastikan kebutuhan makan warga tetap terpenuhi.
“Dapur umum kami siagakan karena sebagian besar warga tidak bisa beraktivitas normal. Bantuan makanan siap saji sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini,” ujar Yasir, Minggu.
Penyediaan logistik dan makanan didukung oleh Baznas Bazis Kota Jakarta Timur serta Suku Dinas Sosial. Sementara itu, proses evakuasi dilakukan oleh aparat kelurahan bersama BPBD DKI Jakarta, petugas PPSU, serta unsur terkait lainnya yang dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak.
Evakuasi diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti lanjut usia, anak-anak, dan warga yang sedang sakit. Proses penyelamatan dilakukan menggunakan perahu karet milik BPBD untuk menjangkau permukiman yang terendam cukup dalam.
“Kami fokus pada keselamatan warga. Lansia dan warga yang sakit dievakuasi lebih dulu sambil terus memantau perkembangan ketinggian air,” kata Yasir.
Selain bantuan logistik, pihak kelurahan juga berkoordinasi dengan Puskesmas setempat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi warga yang mengungsi guna mencegah munculnya penyakit pascabanjir.
Banjir di Cakung Barat dipicu oleh luapan Kali Cakung dan Kali Cakung Drain, serta keterbatasan kapasitas sistem drainase lingkungan. Genangan air berdampak signifikan di sejumlah rukun warga, yakni RW 03, RW 06, RW 07, dan RW 08, dengan ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga mencapai 120 sentimeter di titik terparah.
“Di beberapa lokasi, air sempat setinggi pinggang orang dewasa. Kondisi ini sangat membahayakan, terutama bagi lansia dan anak-anak,” jelasnya.
Akibat banjir, aktivitas warga lumpuh total. Sejumlah jalan lingkungan tidak dapat dilalui kendaraan, sementara akses menuju sekolah, tempat ibadah, dan fasilitas pelayanan publik turut terhambat. Warga terpaksa menyelamatkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi, bahkan sebagian memilih mengungsi demi keselamatan.
Berdasarkan pendataan sementara, jumlah warga terdampak banjir di Cakung Barat mencapai lebih dari 1.000 jiwa. Rinciannya, sekitar 300 jiwa dari RW 03 mengungsi di musala, 300 jiwa dari RW 06 mengungsi di Musala At-Taqwa, serta sekitar 600 jiwa dari RW 08, dengan sekitar 50 jiwa di antaranya mengungsi di Gereja GBI Kampung Baru.
Meski tidak ada laporan korban jiwa, banjir diperkirakan menimbulkan kerugian material yang cukup besar, terutama bagi warga yang rumahnya terendam lebih dari satu meter.
Yasir berharap pemerintah dapat segera menghadirkan solusi permanen untuk mengatasi banjir yang kerap berulang setiap musim hujan. Menurutnya, normalisasi kali, perbaikan sistem drainase, hingga pembangunan embung menjadi langkah mendesak untuk mengurangi risiko genangan di kawasan tersebut.
“Banjir bukan hanya soal hujan deras, tetapi juga kapasitas saluran air dan pengelolaan lingkungan. Diperlukan langkah nyata agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari ke depan, seiring kondisi atmosfer yang masih labil dan berpotensi memicu hujan dengan intensitas tinggi.
DMS/AC











