Teheran (DMS) – Sebanyak 14 anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan tewas, sementara dua lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan amunisi yang belum meledak di Provinsi Zanjan, wilayah barat laut Iran, pada Jumat (1/5).
Menurut laporan kantor berita resmi Iran, IRNA, insiden tersebut terjadi ketika para personel IRGC tengah menjalankan operasi penjinakan sisa amunisi dari serangan udara Amerika Serikat dan Israel selama perang 40 hari melawan Iran.
Laporan yang mengutip pernyataan Korps Ansar al-Mahdi Zanjan—unit provinsi IRGC—menyebut ledakan maut itu dipicu oleh amunisi yang belum teridentifikasi saat proses penanganan berlangsung.
Seluruh korban tewas disebut merupakan personel IRGC berpengalaman, terlatih, dan memiliki spesialisasi tinggi dalam penanganan bahan peledak.
Dalam pernyataannya, Korps Ansar al-Mahdi mengungkapkan bahwa pihaknya sejauh ini telah berhasil mengidentifikasi serta melumpuhkan lebih dari 15.000 amunisi berbahaya yang belum meledak di berbagai wilayah terdampak.
Konflik sebelumnya memuncak pada 28 Februari ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Teheran serta sejumlah kota lain di Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan senior militer dan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta aset-aset Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Setelah eskalasi berkepanjangan, gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai akhirnya tercapai pada 8 April.
DMS/AC











