Masohi, Maluku Tengah (DMS) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tengah memprediksi inflasi pada Juni 2026 akan mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut diperkirakan dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan, mulai dari cabai, bawang merah hingga hasil perikanan.
Kepala BPS Kabupaten Maluku Tengah, Richard Thenu, mengatakan inflasi bulanan (month-to-month) Maluku Tengah pada Mei 2026 tercatat sebesar 1,34 persen. Memasuki akhir Juni, BPS melihat adanya tren kenaikan harga pada sejumlah komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi.
“Inflasi periode bulan kemarin yang dirilis BPS sebesar 1,34 persen. Untuk Juni ini diperkirakan akan sedikit mengalami kenaikan karena ada beberapa faktor yang ikut memengaruhi perkembangan harga di pasar,” kata Richard kepada wartawan di Kantor Bupati Maluku Tengah, Senin (29/6/2026).
Menurut Richard, salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. Meski tidak berdampak langsung kepada seluruh masyarakat, kenaikan tersebut menimbulkan efek berantai (multiplier effect) terhadap harga berbagai kebutuhan pokok.
Berdasarkan pemantauan BPS hingga pekan keempat Juni 2026, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, di antaranya cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.
“Ketika harga Pertamax naik, harga-harga di pasar juga mulai berangsur naik. Dari hasil pemantauan kami sampai minggu keempat Juni, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan cukup signifikan dan diperkirakan menjadi penyumbang inflasi bulan ini, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah,” ujarnya.
Selain komoditas hortikultura, sektor perikanan juga diperkirakan memberikan kontribusi terhadap kenaikan inflasi. Richard menjelaskan, kondisi cuaca yang memasuki musim timur menyebabkan aktivitas melaut nelayan berkurang sehingga memengaruhi pasokan ikan di pasar.
“Kita sudah memasuki musim timur. Ketika laut bergelora, frekuensi nelayan melaut berkurang sehingga ketersediaan komoditas perikanan ikut menurun. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga komoditas pangan,” jelasnya.
Richard juga mengingatkan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi memengaruhi produksi pertanian akibat kekeringan sehingga dapat berdampak pada ketersediaan pangan dan laju inflasi.
Ia mengatakan BPS baru mengikuti rapat koordinasi secara hibrida bersama Kementerian Dalam Negeri yang membahas langkah-langkah antisipasi menghadapi El Nino.
“Pemerintah daerah harus mulai menyiapkan treatment atau mitigasi sejak dini untuk mengantisipasi gejolak alam akibat fenomena El Nino. Jika tidak dimitigasi dengan baik, pasokan komoditas pangan akan berkurang dan berpotensi memicu kenaikan harga serta inflasi di Maluku Tengah,” tegas Richard.
BPS berharap pemerintah daerah segera menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan pangan, sehingga dampak kenaikan harga akibat perubahan cuaca maupun faktor eksternal dapat diminimalkan dan inflasi tetap terkendali.
DMS










