Jakarta (DMS) – Kecemasan yang berlangsung dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur, sehingga berpotensi mengganggu peluang pasangan untuk memperoleh kehamilan. Hal tersebut disampaikan Ketua sekaligus Direktur Pelaksana klinik kesuburan Gaudium IVF di Delhi, India, Dr. Manika Khanna.
Dalam laporan Hindustan Times yang dikutip Minggu (28/6), Khanna mengatakan dirinya kerap menemui pasien yang khawatir apakah stres dan kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk memiliki keturunan. Menurut dia, kondisi tersebut memang dapat berdampak pada kesehatan reproduksi baik pada pria maupun wanita.
Khanna menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang berperan adalah hormon kortisol. Saat seseorang mengalami kecemasan kronis, tubuh akan memproduksi kortisol dalam jumlah berlebihan yang kemudian memengaruhi berbagai fungsi biologis, termasuk sistem reproduksi.
Pada wanita, kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu fungsi hipotalamus, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam mengatur proses ovulasi. Selain itu, biomarker stres juga dikaitkan dengan waktu konsepsi alami yang lebih lama.
“Kortisol tinggi pada wanita dapat mengganggu kelenjar yang bertanggung jawab atas ovulasi, hipotalamus. Biomarker stres dikaitkan dengan waktu konsepsi alami yang lebih lambat pada wanita. Kortisol juga dapat mengganggu pematangan sel telur dengan memengaruhi kadar dua hormon yang memungkinkan perkembangan sel telur, yaitu hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH),” ujar Khanna.
Sementara pada pria, stres kronis dapat menurunkan kadar testosteron yang berperan penting dalam produksi sperma. Penurunan hormon tersebut berpengaruh langsung terhadap jumlah sperma maupun kemampuan sperma bergerak atau motilitasnya.
Khanna menambahkan bahwa kondisi emosional yang negatif dapat mengganggu hasil kesuburan dengan mempengaruhi kualitas sel telur dan sperma. Meski demikian, ia menegaskan bahwa stres bukanlah penyebab langsung infertilitas.
“Stres itu sendiri biasanya tidak menyebabkan infertilitas. Yang terjadi adalah stres menyebabkan kelainan hormonal dan perubahan perilaku,” kata Khanna.
Menurut dia, dampak kecemasan terhadap kesuburan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hormon stres atau perubahan hormonal semata. Kecemasan juga dapat memengaruhi berbagai kebiasaan sehari-hari yang berperan penting dalam proses konsepsi.
Gangguan pada pola tidur, asupan nutrisi, hingga kepatuhan menjalani pengobatan atau program kesuburan dapat terjadi akibat kecemasan yang berkepanjangan. Jika berlangsung terus-menerus, perubahan perilaku tersebut secara bertahap dapat menurunkan peluang keberhasilan kehamilan.
Khanna bahkan menilai bahwa gangguan perilaku yang terjadi secara berulang akibat kecemasan dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap kesuburan dibandingkan pengaruh langsung hormon stres itu sendiri.
Meski demikian, ia menekankan bahwa stres dan kecemasan merupakan kondisi yang dapat dikelola. Menurutnya, penerapan kebiasaan sederhana secara konsisten dapat membantu menurunkan tingkat stres dan mendukung kesehatan reproduksi.
Ia merekomendasikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan, antara lain latihan pernapasan penuh kesadaran selama 10 menit setiap hari, melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti yoga atau jalan cepat, menjaga komunikasi yang terbuka antara pasangan guna mengurangi tekanan emosional, serta mencari bantuan konseling profesional apabila kecemasan mulai terasa berlebihan.
Khanna menyatakan bahwa praktik kesehatan mental yang dilakukan secara kecil namun konsisten dapat memberikan perubahan yang signifikan. Dengan pengelolaan stres yang baik, pasangan yang sedang merencanakan kehamilan dapat menjaga kesehatan reproduksi sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan program kehamilan yang dijalani.
DMS/AC











