Berita Malteng, Masohi – Komisi II DPRD Maluku Tengah kembali menggelar rapat dengar pendapat dengan Pertamina Terminal Masohi dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) berlangsung di ruang rapat Komisi II, Rabu (23/11).
Satu hal yang dibahas dalam rapat ini yakni, pasokan kuota BBM dari Pertamina ke sejumlah SPBU di Kota Masohi, mengingat setiap hari masih terjadi antrian panjang kendaraan pengisian BBM di SPBU.
Ketua Komisi II DPRD Maluku Tengah Hasan Alkatiri menyebutkan setidaknya ada beberapa poin kesimpulan yang disepakati anggota Komisi II dan Pertamina.
Pertama, Komisi II meminta skema waktu pengisian BBM ke SPBU dilakukan lebih awal pada pukul 05:00 WIT, untuk menghindari antriran.
Selain itu penertiban kendaraan yang sengaja mengisi ulang BBM dengan modus mengganti plat nomor sesuai temuan pihak kepolisian.
Komisi II DPRD Maluku Tengah juga akan menemui kementerian ESDM dan BP Migas untuk memperjuangkan penambahan kuota BBM baik untuk Dexalite, Pertalite, Pertamax dan Minyak Tanah, karena dilihat dari kuota yang didapat Maluku Tengah dirasa sangat kurang.
Alkatiri juga mengatakan akan melakukan pertemuan dengan Depot Pertamian Wayame untuk menambah kuota BBM di Kecamatan Leihutu dan Leihutu Barat serta Saparua dan Haruku serta Depot Pertamina SBT untuk kuota BBM di wilayah, Kecamatan Seram Utara.
Komisi II kata Alkatiri juga akan memanggil pihak manajemen SPBU untuk membahas antrian panjang kendaraan saaat pengisian BBM.
Ia menegaskan tak ingin kelangkaan ini menghambat kegiatan perekonomian masyarakat yang perlahan bangkit setelah dihantam pandemi Covid-19.
Sebelunya diberitakan, Komsisi II DPRD Maluku Tengah mencurigai adanya indikasi terselubung menyebabkan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Masohi.
Kelangkaan BBM di Kota Masohi diketahui sudah sering terjadi dan dicurigai ada indikasi lain dibalik kelangkaan tersebut.
Diketahui kelangkaan BBM di Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, seringkali terjadi sehingga berdampak mengularnya antrean mobil di sejumlah SPBU Batas Kota. SPBU itu hampir setiap harinya dipadati kendaraan roda dua dan empat.
Kejadian ini membuat para sopir terutama Angkutan Umum (Angkot) terpaksa mengantre berjam-jam demi mendapatkan beberapa liter BBM untuk kendaraan mereka.
Selain keluhan mengantre persoalan lain juga timbul karena pihak SPBU tak hanya melayani kendaraan, namun juga melayani jirigen milik para pengecer minyak yang memakan waktu antrean.DMS