Berita Maluku Tengah, Masohi – Bupati Maluku Tengah (Malteng) Tuasikal Abua pastikan, Satuan Tugas (satgas) Penanggulangan COVID-19 Kabupaten Maluku Tengah akan melakukan testing, tracing dan treatmen (3T) terhadap keluarga maupun warga desa Watludan yang mengambil paksa jenasah almarhum, Marthin Pasalbesy dari RSUD Masohi.
Pihak RSUD Masohi memvonis almarhum Marthin Pasalbessy meninggal karena positif terpapar Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
Menurut Bupati langkah ini diambil, untuk memutus rantai penyebaran COVId, menyusul pengambilan paksa jenasah almarhum yang dilakukan keluarga dan warga Desa Watludan pada hari, Kamis (08/07), petang.
“Seharusnya kejadian pengambilan paksa jenasah tidak perlu terjadi, karena Pemda Maluku Tengah telah menyiapkan dua tempat pemakaman khusus COVID-19 untuk warga Nasrani dan Islam”sebutnya
Tuasikal juga mengklarifikasi tidak benar kalau pengambilan jenasah almarhum atas perintah salah satu pejabat Pemda setempat. Menurutnya kejadian itu hanya karena salah presepsi dari keluarga dan masyarakat .
“Sebenarnya ini hanya mis komunikasi saja, mereka mengatakan mengambil jenasah atas perintah salah satu pejabat itu tidak benar, sekali lagi saya katakan itu tidak benar ” kata Tuasikal
Kapolres Maluku Tengah, AKPBP Rosita Umasugi mengatakan, pascah insiden pengambilan jenasah dan pemblokiran jalan Trans Seram dirinya bersama Direktur RSUD Masohi didampingi Asisten I Setda Maluku Tengah, bertemu langsung dengan keluarga almarhum di Desa Watludan, untuk melakukan klarifikasi dengan membawa dokumen hasil Swab PCR yang menyatakan almarhum meninggal karena positif COVID-19.
Dijelaskan Umasugi ,setelah melakukan klarifikasi dan negoisasi warga dapat menerima penjelasan yang disampaikan, sehingga sekira Pukul 20:30 WIT warga dibantu TNI dan Polisi membuka pemblokiran jalan dan saat ini akses jalan tersebut bisa dilewati.
Ditambahkan Satgas akan melakukan upaya tracing,traseng dan treatmen secara menyeluruh terhadap keluaraga dekat dan warga yang kontak langsung dengan almarhum juga mereka yang menghadiri acara pemakaman.
Seperti diketahui tidak terima Marthin Pasalbessy, meninggal karena divonis positif corona oleh Medis RSUD Masohu, keluarga dan warga desa Watludan, Kamis (08/07), mendatangi RSUD dan mengambil jenasah dibawah ke Watludan untuk dimakamkan.
Tidak sampai disitu warga kemudian memblokade akses Jalan Trans Seram dengan cara dicor beton badan jalan. Warga juga membakar ban-ban bekas dan menebang pohon menutupi akses jalan penghubung antar tiga Kabupaten di Pulau terbesar di Maluku itu.
Aksi pemblokiran jalan tersebut berdampak, arus transportasi dari dan menuju Kota Masohi, Maluku Tengah lumpuh total.
Aparat TNI Polri yang datang ke lokasi kejadian sempat negosiasi dengan warga, namun mereka tetap bersikeras menutup jalan tersebut.
Menurut warga, vonis RSUD Masohi yang menyebut almarhum meninggal karena Covid-19 sangat melukai keluarga dan juga warga desa Watludan.
Sekira Pukul 20:30 WIT warga membuka blockade jalan setelah mendapat penjelasan dan klarifikasi tentang penyebab kematian korban dari Kapolres dan Direktur RSUD Masohi dan Asiten I Setda Maluku Tengah.DMS