Jakarta (DMS) – Dehidrasi berisiko mengganggu kerja jantung hingga menurunkan fungsi ginjal karena tubuh kehilangan cairan yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai fungsi organ. Dokter spesialis gizi klinik dr. Putri Sakti, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K mengingatkan kondisi kekurangan cairan tidak boleh diabaikan, terlebih sekitar 60 persen tubuh manusia terdiri atas air.
“Darah mengental sehingga beban kerja jantung meningkat untuk memompa darah ke seluruh organ. Hal ini bisa memicu penurunan tekanan darah dan gejala pusing,” kata Putri kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Dehidrasi dapat ganggu fungsi ginjal
Putri menjelaskan, kekurangan cairan juga dapat berdampak pada fungsi ginjal hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat suhu tubuh yang terlalu tinggi.
Menurut dokter gizi lulusan Universitas Indonesia itu, penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan tubuh kesulitan menyaring racun. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan batu ginjal.
Selain itu, dehidrasi dapat meningkatkan risiko heat exhaustion dan heat stroke.
“Risiko heat exhaustion dan heat stroke yang dapat menyebabkan kegagalan organ dan meningkatkan risiko gangguan keselamatan jiwa,” ujar Putri.
Kenali tanda tubuh kekurangan cairan
Putri mengatakan rasa haus merupakan “sinyal darurat” yang menunjukkan tubuh sudah mengalami kekurangan cairan. Karena itu, masyarakat disarankan tidak menunggu rasa haus untuk mulai minum.
Salah satu tanda awal yang dapat diperhatikan adalah perubahan warna urine dan frekuensi buang air kecil.
“Warna urine lebih gelap dan pekat dan frekuensi buang air kecil menurun (kurang dari 4–5 kali sehari),” kata dia.
Selain perubahan urine, tanda tubuh kekurangan cairan antara lain sakit kepala ringan atau kepala terasa melayang, tubuh cepat lelah dan mengantuk, serta sulit berkonsentrasi.
Kondisi tersebut juga dapat ditandai dengan brain fog, mudah tersinggung, serta mulut, bibir, atau mata terasa kering akibat produksi air liur dan air mata yang berkurang.
Putri juga menyebut keinginan tiba-tiba mengonsumsi makanan manis dapat muncul ketika tubuh kekurangan cairan.
“Tiba-tiba ingin mengonsumsi makanan manis dikarenakan organ hati kesulitan memecah cadangan glikogen menjadi glukosa, sehingga tubuh mengirim sinyal ‘palsu’ berupa rasa lapar atau ingin gula,” tutur dia.
Cukupi kebutuhan cairan setiap hari
Untuk mencegah dehidrasi, Putri menyarankan masyarakat menerapkan prinsip minum sebelum haus. Asupan cairan juga perlu ditambah ketika seseorang melakukan aktivitas berat di bawah terik matahari.
Ia menyarankan menyiapkan target minum minimal 2 hingga 2,5 liter per hari. Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan aktivitas yang dilakukan.
Selain air putih, kebutuhan cairan dapat didukung dengan mengonsumsi buah dan sayur yang kaya air. Pilihannya antara lain semangka, melon, jeruk, timun, selada, atau sup berkuah bening.
Makanan tersebut juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan dan mineral alami tubuh.
DMS/AC











