Teheran (DMS) – Iran menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berkuasa. Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Baqer Zolqadr, penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Kamis (17/9).
Zolqadr mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari sikap Iran dalam merespons konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump yang kriminal dan Netanyahu yang haus darah diturunkan dari kursi kekuasaan mereka, dan ini merupakan tahap pertama pembalasan bangsa Iran,” kata Zolqadr seperti dikutip kantor berita ISNA.
Pernyataan Zolqadr tersebut menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dikaitkan dengan perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat dan Israel.
Konflik Iran, AS, dan Israel
Konflik tersebut bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sasaran Amerika Serikat dan Israel.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan. Namun, permusuhan kembali berlangsung tidak lama setelah kesepahaman tersebut tercapai.
Hingga kini, konflik tersebut belum sepenuhnya terselesaikan. Meski demikian, kedua pihak tidak sedang terlibat dalam pertempuran aktif, sementara Amerika Serikat tetap mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Selat Hormuz Jadi Jalur Penting Energi
Eskalasi konflik turut mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute penting bagi distribusi minyak global, produk minyak bumi, dan gas alam cair.
Gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz berdampak pada pasokan energi dan turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Sebelumnya, Iran juga telah mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah tuntutan terhadap Amerika Serikat. Perkembangan tersebut membuat status jalur pelayaran strategis itu tetap menjadi perhatian dalam upaya diplomasi terkait konflik Iran dan AS.
DMS/AC









