Gaza City (DMS) – Ibrahim Abu Naji (65) terbangun setiap hari di atas lembaran kardus yang dijadikan alas tidur di sebuah ruang kelas di Gaza City yang kini berfungsi sebagai tempat penampungan pengungsi. Bersama sembilan anak dan cucunya, ia bertahan di tengah keterbatasan dan ancaman serangan udara yang terus terjadi.
“Setiap hari kami bertanya-tanya, apakah akan selamat hari ini,” ujarnya lirih kepada Xinhua.
Ibrahim telah beberapa kali mengungsi sejak konflik berkecamuk. Ia meninggalkan rumahnya di Shuja’iyya, kemudian berpindah ke Rafah, dan akhirnya ke Gaza City.
“Penderitaan kali ini lebih berat dibanding perang-perang sebelumnya,” ucapnya. “Kami tidak punya tempat aman. Setiap kali merasa tenang, datang perintah evakuasi. Kami seperti daun tertiup angin.”
Dengan kondisi fisik yang melemah, ia kesulitan berjalan jauh dan kerap mengalami nyeri punggung akibat tidur di lantai. Selain itu, akses terhadap makanan, obat-obatan, dan sanitasi layak nyaris tidak ada.
Memasuki bulan ke-19 konflik, warga lanjut usia di Gaza menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kelaparan, pengungsian berulang, hingga minimnya layanan medis.
Dalal al-Naji (84), warga Deir al-Balah, mengenang momen saat roket jatuh dekat rumahnya. “Saya pikir jantung saya akan berhenti. Saya tidak bisa berdiri hingga anak saya menggendong saya,” kisahnya. Ia kini hanya berharap bisa menikmati satu malam tanpa suara dentuman bom.
Sementara itu, Naima al-Naji (72), mengungkapkan perjuangannya mendapatkan makanan dan obat. “Kami antre berjam-jam untuk sepotong roti atau sekaleng kacang. Kadang saya tidak mendapatkan apa-apa,” katanya. Dengan tekanan darah tinggi dan tanpa akses obat, ia hanya bisa membaca Al-Quran untuk mengalihkan perhatian.
Mohammed al-Majayda (75), warga Khan Younis, sudah mengungsi lebih dari sepuluh kali sejak Oktober 2023. Ia menyebut kondisi kali ini jauh lebih parah dibanding pengalamannya selama perang 1967. “Tidak ada yang membantu. Kami seakan dilupakan,” katanya.
Minimnya obat, listrik, dan air bersih memperburuk kondisi para lansia, banyak di antaranya telah kehilangan keluarga atau terpisah akibat pengungsian.
Mohammed Abu Jamea, sukarelawan dari Gaza City, mengatakan bahwa banyak lansia datang ke pos-pos bantuan dalam kondisi lemah dan kelelahan. “Mereka tidak meminta kemewahan, hanya ingin hidup dengan martabat. Mereka butuh rumah, obat pereda nyeri, dan ketenangan,” katanya.
Menurut Abu Jamea, meski di ambang akhir hayat, para lansia ini justru menghadapi penderitaan baru. “Namun kami tetap bertahan di tanah ini. Jika harus berakhir, kami ingin itu terjadi di rumah kami sendiri.”DMS/AC











