Changsha (DMS) – Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing mendorong peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) di Provinsi Hunan, China, khususnya di Central South University (CSU).
Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan Ketua Dewan Universitas CSU An Shi dalam rangka kunjungan kerja di Changsha, Senin (9/3).
“Saya senang dapat bertemu dan berbicara langsung dengan pihak dari Central South University, karena CSU punya reputasi yang sangat baik, termasuk dalam bidang teknik metalurgi, material maju, transportasi, dan kedokteran,” kata Djauhari.
Ia menilai program-program studi yang ditawarkan CSU sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, terutama dalam mendukung prioritas pembangunan nasional seperti hilirisasi industri.
Djauhari menambahkan, pemerintah Indonesia juga dapat mempertimbangkan pengiriman pegawai pemerintah muda yang memiliki latar belakang STEM untuk menempuh pendidikan di universitas tersebut.
Menurutnya, peluang kerja sama pendidikan antara Indonesia dan CSU masih sangat terbuka, seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Indonesia yang memilih melanjutkan studi di China.
“Saat ini mahasiswa Indonesia yang belajar di China sudah mencapai sekitar 20.000 orang. Saya yakin jumlah mahasiswa Indonesia di CSU juga akan meningkat ke depan, terlebih pemerintah membutuhkan lebih banyak talenta di bidang STEM,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Universitas CSU An Shi menjelaskan bahwa universitas tersebut memiliki sekitar 36.000 mahasiswa program sarjana dan 26.000 mahasiswa pascasarjana, termasuk sekitar 2.200 mahasiswa internasional.
Ia menyebut CSU memiliki keunggulan di berbagai bidang, seperti pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral, teknologi metalurgi, serta penelitian transportasi rel. Universitas tersebut juga menjadi salah satu pusat pengembangan kedokteran modern di China melalui Xiangya School of Medicine.
An Shi menambahkan, dalam Soft Science Ranking 2025, program studi pertambangan di CSU menempati peringkat pertama dunia, sementara program studi metalurgi berada di posisi kedua. Program studi teknik mesin juga masuk dalam jajaran program terbaik secara global.
Secara nasional di China, beberapa program studi di CSU seperti mineral processing, metalurgi, teknik pertambangan, dan material science juga menempati peringkat A+ atau masuk dalam 10 besar nasional.
Selain itu, dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia yang disusun oleh Stanford University, terdapat 534 dosen dari CSU yang masuk dalam dua persen ilmuwan terbaik dunia. Pencapaian ini menempatkan universitas tersebut pada posisi ketujuh di China daratan.
Salah satu mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di CSU adalah M. Apriansyah, yang sedang menjalani program magister di bidang energi terbarukan.
Apriansyah berharap pengalaman belajar di CSU dapat membantunya memperdalam pengetahuan di bidang teknologi dan inovasi sehingga dapat memberikan kontribusi lebih besar ketika kembali ke Indonesia.
“Saya berharap dapat memperoleh banyak pembelajaran saat bersekolah di CSU ini sehingga saat kembali ke Indonesia bisa lebih berkontribusi dalam bidang teknologi dan inovasi,” ujarnya dalam bahasa Mandarin.
Apriansyah sebelumnya menempuh pendidikan diploma di Provinsi Guangxi, kemudian melanjutkan studi sarjana di Beijing, sebelum akhirnya mengambil program pascasarjana di Changsha.
Ia juga berharap dapat menjadi penghubung yang memperkuat kerja sama antara Indonesia dan China di masa depan.
Di sisi lain, hubungan ekonomi antara kedua wilayah juga terus berkembang. Indonesia saat ini merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Provinsi Hunan di kawasan Asia Tenggara.
Nilai perdagangan antara Indonesia dan Hunan pada 2025 tercatat mencapai 3,23 miliar dolar Amerika Serikat. Pertumbuhan perdagangan tersebut didorong oleh ekspor produk “tiga baru” dari Hunan ke Indonesia, yaitu kendaraan listrik, baterai lithium-ion, serta produk fotovoltaik atau panel surya.
Dalam sebelas bulan pertama 2025, ekspor produk-produk tersebut dari Hunan ke Indonesia bahkan meningkat hingga 724 persen.
DMS/AC











