Jakarta (DMS) – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyerukan agar negara-negara anggota BRICS mengambil peran lebih aktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global.
Seruan tersebut disampaikan Sugiono dalam forum BRICS Foreign Ministers’ Meeting yang berlangsung di New Delhi, India, Kamis (14/5).
“Sebagai kekuatan yang sedang bangkit di Global South, BRICS memiliki kedudukan dan tanggung jawab untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam menjaga perdamaian dan melestarikan aturan yang menopang stabilitas global,” kata Sugiono sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.
Dalam pertemuan itu, Sugiono menegaskan bahwa kekuatan utama BRICS terletak pada kemampuannya memperkuat suara negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global masa depan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjunjung hukum internasional secara adil, konsisten, dan tanpa standar ganda. Menurutnya, tidak ada negara yang kebal terhadap hukum internasional.
Secara khusus, Menlu RI turut menyinggung gugurnya empat personel penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Indonesia menyerukan adanya akuntabilitas penuh terhadap pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian PBB merupakan prinsip yang tidak dapat dikompromikan.
Selain isu keamanan global, Sugiono juga menyoroti pentingnya reformasi tata kelola dunia guna menghadapi berbagai tantangan internasional saat ini.
Ia menekankan perlunya reformasi sistem perdagangan global agar lebih inklusif, terbuka, dan non-diskriminatif dengan World Trade Organization (WTO) tetap menjadi fondasi utama.
Sejalan dengan tema keketuaan India tahun ini, Indonesia menyambut baik penguatan New Development Bank (NDB). Pemerintah Indonesia juga menegaskan tengah menyelesaikan proses internal untuk bergabung dengan lembaga tersebut.
BRICS tahun ini mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability” di bawah keketuaan India.
Tahun 2026 menjadi tahun kedua Indonesia sebagai anggota BRICS sekaligus menandai 20 tahun pembentukan organisasi tersebut sejak pertama kali didirikan pada 2006.
Ke depan, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan forum BRICS untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi, perubahan iklim, energi, kesehatan, hingga reformasi tata kelola global.
Keanggotaan Indonesia di BRICS dinilai berpotensi memberikan manfaat konkret bagi nasional, mengingat kelompok tersebut merepresentasikan sekitar 28 hingga 30 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia serta mencakup sekitar 45 persen populasi global.
BRICS Foreign Ministers’ Meeting sendiri merupakan forum utama tingkat menteri luar negeri yang menjadi bagian dari rangkaian menuju KTT BRICS ke-18 yang dijadwalkan berlangsung pada 12-13 September 2026 di New Delhi, India.











