Jakarta (DMS) – Pertandingan Grup J Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Austria di Dallas Stadium, Texas, Amerika Serikat, Senin (22/6) pukul 24.00 WIB, diprediksi kembali menempatkan Lionel Messi sebagai pusat perhatian. Meski kekuatan Albiceleste tidak hanya bergantung pada satu pemain, kapten Argentina itu tetap menjadi figur yang paling menentukan dalam perjalanan tim asuhan Lionel Scaloni.
Karakter permainan Argentina yang mengandalkan kecerdasan taktik, kemampuan membaca situasi, serta efektivitas dalam memanfaatkan peluang telah lama menjadi identitas tim tersebut. Filosofi itu mengingatkan pada pernyataan legenda Diego Maradona menjelang laga Piala Dunia 1994 melawan Nigeria, ketika ia menegaskan bahwa Argentina mampu mengalahkan lawan yang lebih muda dan kuat secara fisik karena bermain dengan kecerdasan dan strategi.
Ucapan Maradona kala itu terbukti. Argentina berhasil mengalahkan Nigeria 2-1 berkat kematangan taktik dan kemampuan memanfaatkan kelemahan lawan. Pola serupa masih terlihat dalam permainan Albiceleste saat ini, yang dikenal mampu menyerap tekanan lawan sebelum membalas dengan serangan yang lebih efektif dan mematikan.
Pendekatan tersebut kembali terlihat ketika Argentina mengalahkan Aljazair 3-0 pada laga sebelumnya di Grup J. Menariknya, Aljazair sebenarnya lebih dominan dalam penguasaan bola serta lebih sering memasuki sepertiga akhir lapangan. Tim Afrika Utara itu mencatat 118 umpan di area serangan dan 14 sentuhan di kotak penalti Argentina.
Sebaliknya, Argentina hanya membukukan 78 umpan di sepertiga akhir lapangan lawan dan 12 sentuhan di kotak penalti Aljazair. Namun efektivitas menjadi pembeda. Aljazair hanya menghasilkan tujuh peluang dengan satu tembakan tepat sasaran, sedangkan Argentina menciptakan 10 peluang, dengan sebagian besar merupakan peluang emas yang berujung tiga gol dari Lionel Messi.
Peran Messi dalam skuad Argentina tetap sangat vital. Meski demikian, keberhasilan Albiceleste tidak hanya bertumpu pada kehebatan sang megabintang. Kohesi tim yang dibangun oleh Scaloni menjadi salah satu kekuatan terbesar Argentina saat ini.
Messi mendapat dukungan penuh dari lini tengah yang dihuni Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez, dan Thiago Almada. Keempat pemain tersebut berperan menjaga keseimbangan permainan sekaligus memberi ruang bagi Messi untuk mengembangkan kreativitasnya di lapangan.
Di sektor pertahanan, duet Cristian Romero dan Lisandro Martinez menjadi tembok kokoh yang sulit ditembus lawan. Keduanya tampil solid dalam meredam serangan Aljazair dan melindungi kiper Emiliano Martinez dari ancaman serius.
Kehadiran para pemain muda yang tumbuh dengan mengidolakan Messi juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan Argentina dalam beberapa tahun terakhir. Dukungan kolektif tersebut membantu Messi mempertahankan kualitas permainan terbaiknya, sekaligus mengantarkan Argentina menjuarai Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022.
Kini, Messi kembali memburu pencapaian baru di Piala Dunia 2026. Ia berpeluang menambah koleksi rekor pribadinya, termasuk mengejar status sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia serta berkesempatan menjadi pemain Argentina kedua setelah Daniel Passarella yang mampu mengangkat trofi Piala Dunia sebanyak dua kali.
Meski demikian, Austria tidak hanya dituntut menghentikan Messi jika ingin meraih hasil positif. Tim asuhan Ralf Rangnick juga harus mampu mengatasi kualitas pemain Argentina di seluruh lini.
Lini pertahanan Austria yang dipimpin David Alaba akan menghadapi tugas berat untuk membendung pergerakan Messi. Di saat yang sama, Konrad Laimer dan Nicolas Seiwald harus mampu mengimbangi dominasi lini tengah Argentina yang dikomandoi Rodrigo De Paul.
Tantangan serupa juga dihadapi lini depan Austria yang mengandalkan Sasa Kalajdzic. Mereka harus menemukan cara menembus pertahanan Argentina yang diperkuat Romero dan Lisandro Martinez, sebuah tugas yang tidak mudah mengingat kokohnya lini belakang Albiceleste.
Pada pertandingan sebelumnya melawan Yordania, Austria memang tampil dominan dalam penguasaan bola dan agresivitas serangan. Namun mereka kesulitan mencetak gol hingga harus terbantu oleh gol bunuh diri lawan dan gol penentu Marko Arnautovic di penghujung pertandingan.
Menghadapi Argentina, Austria akan berhadapan dengan lawan yang memiliki pertahanan lebih solid, lini tengah lebih kuat, dan lini depan yang jauh lebih efektif dalam memanfaatkan peluang.
Rangnick kemungkinan tetap mempertahankan filosofi permainan agresif yang menjadi ciri khasnya, sementara Scaloni diprediksi kembali menerapkan pendekatan yang lebih sabar dengan mengamati pola permainan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang mematikan.
Secara statistik dan sejarah pertemuan, Argentina juga memiliki sejumlah keuntungan. Dari dua pertemuan sebelumnya dalam laga persahabatan, satu berakhir imbang dan satu lainnya dimenangkan Argentina.
Selain itu, Argentina hanya sekali menelan kekalahan dalam delapan pertandingan terakhir melawan tim-tim Eropa di putaran final Piala Dunia. Sebaliknya, Austria memiliki catatan kurang mengesankan saat menghadapi wakil Amerika Selatan, dengan hanya satu kemenangan dari 10 pertemuan terakhir.
Dengan kualitas skuad, pengalaman, performa terkini, serta keberadaan Lionel Messi yang masih menjadi pembeda di lapangan, Argentina dinilai lebih berpeluang untuk meraih kemenangan atas Austria dan melanjutkan langkah positif mereka di Piala Dunia 2026.
DMS/AC











