Jakarta (DMS) – Perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi dapat memicu gangguan pencernaan, termasuk diare yang kerap dialami sebagian wanita saat memasuki atau menjalani masa menstruasi. Kondisi tersebut terjadi karena kedua hormon tersebut berpengaruh terhadap pergerakan usus dan proses pencernaan.
Dokter Kandungan, Ginekolog, dan Ahli Uroginekologi di Rumah Sakit Wanita dan Anak KK (KKH), Dr. Jill Lee, menjelaskan bahwa perubahan kadar hormon sepanjang siklus menstruasi dapat menyebabkan perubahan pola buang air besar, mulai dari sembelit hingga diare.
“Setelah ovulasi, peningkatan kadar progesteron memperlambat pencernaan, yang dapat menyebabkan sembelit,” kata Lee dalam siaran Channel News Asia, Senin (29/6).
Lee yang juga menjabat sebagai Konsultan Senior di Departemen Uroginekologi KKH mengatakan hormon estrogen dan progesteron memiliki peran penting dalam mengatur pergerakan usus. Pada paruh pertama siklus menstruasi, kadar estrogen meningkat, kemudian setelah ovulasi kadar progesteron ikut meningkat dan kedua hormon tersebut tetap tinggi hingga menjelang menstruasi.
Apabila kehamilan tidak terjadi, kadar estrogen dan progesteron akan menurun secara signifikan. Penurunan hormon yang terjadi menjelang menstruasi inilah yang memengaruhi aktivitas usus dan dapat menyebabkan perubahan pola buang air besar.
Menurut Lee, interaksi antara estrogen dan progesteron sepanjang siklus menstruasi dapat membuat wanita mengalami sembelit dan tinja encer secara bergantian karena pengaruhnya terhadap sistem pencernaan.
“Tepat sebelum menstruasi, kadar estrogen dan progesteron turun tajam dan ini membuat otot usus berkontraksi lebih cepat, menyebabkan buang air besar lebih cepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa kondisi kesehatan tertentu dapat membuat wanita lebih rentan mengalami gangguan pencernaan selama menstruasi. Salah satunya adalah sindrom iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS).
Penderita IBS diketahui memiliki sensitivitas nyeri yang lebih tinggi pada saluran pencernaan. Pada wanita, gejala IBS sering kali memburuk menjelang dan selama menstruasi.
IBS merupakan gangguan fungsi usus yang memengaruhi proses pencernaan, berbeda dengan Inflammatory Bowel Disease (IBD) yang merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan dan luka pada saluran pencernaan.
Lee mengatakan sejumlah penelitian menunjukkan sekitar 40 hingga 50 persen wanita dengan IBS mengalami perburukan gejala selama menstruasi, seperti kram perut, peningkatan produksi gas, diare, hingga sembelit.
Selain itu, wanita yang menderita penyakit radang usus atau IBD juga kerap mengalami peningkatan gejala saat mendekati masa menstruasi.
“Wanita dengan penyakit radang usus (IBD) juga sering mengalami gejala usus yang lebih buruk, seperti sakit perut, demam, inkontinensia feses, dan lendir dalam feses, sebelum dan selama periode menstruasi mereka, dengan diare sebagai gejala yang paling umum muncul,” kata Lee.
Sementara itu, Konsultan Dokter Keluarga di Tucker Medical, Dr. June Tan Sheren, menjelaskan bahwa selama menstruasi tubuh juga mengalami peningkatan produksi prostaglandin, yaitu senyawa mirip hormon yang berperan dalam proses peradangan, aliran darah, rasa nyeri, serta kontraksi rahim saat menstruasi dan persalinan.
Menurut Sheren, peningkatan kadar prostaglandin tidak hanya memicu kontraksi rahim, tetapi juga meningkatkan aktivitas saluran pencernaan sehingga menyebabkan buang air besar menjadi lebih sering dan lebih encer.
“Peningkatan prostaglandin selama menstruasi tidak hanya merangsang kontraksi rahim tetapi juga meningkatkan pergerakan saluran pencernaan, yang menyebabkan buang air besar lebih encer dan lebih sering pada banyak wanita selama menstruasi mereka,” ujarnya.
Selain faktor hormonal, Sheren mengatakan stres, gangguan suasana hati, dan kecemasan juga dapat meningkatkan sensitivitas usus sehingga memperburuk gejala pencernaan yang muncul selama menstruasi.
Ia menambahkan, banyak wanita mengalami perut kembung sejak satu hari hingga lebih dari satu minggu sebelum menstruasi. Kondisi tersebut merupakan salah satu gejala sindrom pramenstruasi (PMS) yang dipengaruhi oleh perubahan hormon.
Kadar progesteron yang meningkat pada fase pramenstruasi dapat memperlambat pergerakan makanan di usus besar sehingga memicu kembung dan sembelit. Selain itu, perubahan hormon juga dapat menyebabkan retensi cairan dan kongesti pembuluh darah di area panggul yang menambah rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.
Pada fase tersebut, sensitivitas usus juga meningkat dan ambang nyeri menjadi lebih rendah. Akibatnya, wanita dapat merasakan perut lebih kembung dan tidak nyaman meskipun jumlah gas atau cairan di dalam usus masih berada dalam batas normal.
DMS/AC











