Mataram (DMS) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan zona merah gelombang tinggi di sejumlah perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran.
Prakirawan Stasiun Meteorologi BMKG NTB Andre Jersey mengatakan peringatan tersebut berlaku mulai Kamis, 22 Januari 2026 pukul 08.00 Wita hingga Jumat, 23 Januari 2026 pukul 08.00 Wita. Dalam periode itu, tiga wilayah perairan diprakirakan mengalami gelombang sangat tinggi dengan ketinggian 4–6 meter, sementara lima perairan lainnya masuk kategori gelombang tinggi 2,5–4 meter.
Perairan dengan gelombang sangat tinggi meliputi Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, serta Samudera Hindia selatan NTB. Adapun gelombang tinggi diprakirakan terjadi di Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara, perairan utara Sumbawa, Selat Sape bagian utara, dan Selat Sape bagian selatan.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir dan operator transportasi laut meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau informasi cuaca maritim terkini. Gelombang tinggi hingga sangat tinggi dinilai berbahaya bagi berbagai jenis kapal, mulai dari perahu nelayan hingga kapal besar.
Perahu nelayan berisiko saat kecepatan angin melebihi 15 knot dan gelombang di atas 1,25 meter. Kapal tongkang berisiko pada gelombang di atas 1,5 meter, kapal feri di atas 2,5 meter, sementara kapal besar seperti kapal kargo dan kapal pesiar berisiko jika gelombang melampaui 4 meter.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipicu dampak tidak langsung Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di selatan perairan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 25 knot, tekanan udara minimum 998 hektopascal, dan bergerak ke arah barat.
DMS/AC










