Banda Aceh (DMS) – Pengungsi bencana alam asal Gampong Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, berharap mendapat bantuan tenda khusus perempuan atau hunian sementara. Saat ini, ratusan warga terpaksa mengungsi di kompleks kantor Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya.
Koordinator Posko Pengungsi Banjir Bandang Dusun Meunasah Krueng Baroh, Armiati, mengatakan para pengungsi perempuan membutuhkan tempat tinggal yang lebih layak dan aman di kampung mereka sendiri.
“Kami sangat berharap ada bantuan tenda agar perempuan bisa tinggal dan tidur di kampung sendiri, tanpa harus mengungsi jauh,” ujar Armiati, Minggu.
Ia menjelaskan, warga saat ini menempati Kantor Serbaguna Tgk Chik Pante Geulima Cot Trieng di Kecamatan Meureudu, sekitar tiga kilometer dari desa asal. Kondisi tersebut membuat pengungsi harus bolak-balik ke gampong untuk makan, lalu kembali ke posko untuk bermalam.
Dengan adanya tenda atau hunian sementara di lokasi terdampak, pengungsi diharapkan dapat menetap di kampung sendiri sekaligus menjaga harta benda yang masih tertimbun lumpur akibat banjir bandang.
Selain tenda, para pengungsi juga membutuhkan fasilitas sanitasi dasar seperti tempat mandi, mencuci, dan buang air besar. “Fasilitas MCK sangat mendesak karena rumah dan sarana yang ada saat ini rusak, tertimbun tanah, dan masih tergenang banjir,” katanya.
Armiati menambahkan, kebutuhan makanan bagi pengungsi sejauh ini relatif tercukupi. Namun, bantuan mendesak yang diperlukan saat ini adalah tenda atau hunian sementara serta fasilitas MCK.
Banjir bandang sebelumnya melanda sejumlah dusun, di antaranya Meunasah Krueng Baroh, Meunasah Cut, dan Meunasah Blang. Dusun Meunasah Krueng Baroh menjadi wilayah dengan dampak terparah.
Sebanyak 350 kepala keluarga atau sekitar 1.200 jiwa dari gampong tersebut masih mengungsi hingga kini.











