Jakarta (DMS) – Kanker prostat kerap ditemukan pada pria berusia 50 tahun ke atas karena risiko penyakit tersebut meningkat seiring bertambahnya usia. Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi dr. Andar R. Siregar, Sp. U, Subsp. Onk. (K), MARS menjelaskan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker prostat.
“Jadi memang semakin tua, kita laki-laki sudah dikasih Tuhan akan ada kecenderungan untuk membesar prostatnya dan risiko menjadi kankernya memang makin besar, semakin tua,” kata Andar dalam sesi temu media di Jakarta, Kamis.
Menurut Andar, peluang pria mengalami pembesaran kelenjar prostat dan kanker prostat meningkat seiring pertambahan usia.
Selain faktor usia, riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko. Pria yang memiliki anggota keluarga, terutama ayah, yang pernah terkena kanker prostat disarankan lebih memperhatikan deteksi dini.
Faktor Genetik dan Gaya Hidup
Andar mengatakan faktor genetik, termasuk mutasi gen BRCA, dapat meningkatkan angka kejadian dan keparahan kanker prostat.
“Mungkin kalau ada yang ayahnya sudah kena kanker prostat, itu sudah mulai harus hati-hati, harus segera skrining lebih awal,” ujar dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Selain faktor genetik, sejumlah kondisi dan gaya hidup juga disebut dapat meningkatkan risiko kanker prostat.
Faktor tersebut antara lain:
- Gaya hidup pasif.
- Obesitas.
- Penyakit kardiovaskular.
- Hipertensi.
- Kebiasaan merokok.
- Konsumsi makanan tidak sehat.
- Konsumsi alkohol.
Andar juga menjelaskan bahwa pria lanjut usia umumnya dapat mengalami benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
BPH bukan kanker, tetapi kondisi tersebut dapat mengganggu aliran urine.
BPH Banyak Dialami Pria Lansia
Berdasarkan data yang disampaikan Andar, BPH memengaruhi kehidupan sekitar 50 persen pria berusia 50 tahunan.
Persentase tersebut meningkat hingga 90 persen pada pria berusia di atas 80 tahun.
Gejala BPH dapat dibagi menjadi gejala iritasi dan obstruktif. Gejala iritasi antara lain frekuensi buang air kecil yang meningkat, sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil, serta kesulitan menahan urine yang muncul tiba-tiba atau tidak terkendali.
Sementara itu, gejala obstruktif meliputi aliran urine yang melambat dan tersendat. Penderitanya juga dapat terpaksa mengejan dengan otot perut untuk mengeluarkan urine hingga merasa kandung kemih masih penuh setelah buang air kecil.
“Padahal si otot kandung kemih itu dia punya otot, jadi enggak perlu otot perut buat kencing. Buat perempuan juga sebenarnya, jadi kita enggak perlu mengejan buat kencing. Kalau teman-teman mengejan itu sudah tanda peringatan sebenarnya,” kata Andar.
Pria 50 Tahun Disarankan Deteksi Dini
Andar menyarankan pria berusia di atas 50 tahun di Indonesia melakukan deteksi dini, salah satunya melalui pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA).
Pemeriksaan PSA terutama disarankan bagi pria yang memiliki riwayat keluarga kanker prostat.
Menurut Andar, apabila hasil pemeriksaan PSA menunjukkan nilai lebih dari 4,0 ng/mL, dokter dapat mencurigai adanya risiko kanker prostat dan melakukan pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan lanjutan dapat berupa MRI sebelum dokter menentukan apakah pasien memerlukan tindakan operasi atau tidak.
Teknologi Pengobatan Kanker Prostat
Andar yang kini praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah mengatakan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena teknologi medis untuk menangani kanker prostat terus berkembang.
Sejumlah teknologi yang disebutkannya antara lain operasi dengan bantuan robot, radioterapi, serta focal therapy seperti HIFU dan cryoablasi.
Teknologi tersebut antara lain ditujukan untuk membantu menjaga kualitas hidup pasien, termasuk fungsi seksual dan kemampuan menahan urine.
Menurut Andar, dokter kini memberikan rekomendasi penanganan berdasarkan tingkat keparahan kanker serta kondisi dan keinginan pasien.
DMS/AC










