New York (DMS) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Gaza yang disebutnya sebagai “mengerikan”. Hal ini disampaikannya dalam keterangan pers di markas besar PBB pada Senin (14/7).
“Apa yang kita saksikan di Gaza adalah tingkat kematian dan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam waktu terakhir,” ujar Guterres.
Ia menyoroti meningkatnya jumlah korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, yang tewas saat berusaha mendapatkan bantuan pangan dan air. “Kekerasan ini telah merusak martabat manusia yang paling dasar,” tegasnya.
Guterres kembali menyerukan agar semua pihak segera menyepakati gencatan senjata permanen, sembari menekankan bahwa penyelesaian konflik hanya bisa dicapai melalui solusi dua negara yang adil bagi warga Palestina dan Israel.
“Warga Palestina yang hidup di tanah mereka sendiri tanpa hak-hak dasar adalah pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan dan hukum internasional,” katanya.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa eskalasi serangan selama akhir pekan mengakibatkan banyak korban jiwa. Dalam salah satu insiden, tujuh anak tewas saat mengantre air di Nuseirat. Sementara itu, insiden serupa juga terjadi pada Kamis (10/7), ketika beberapa perempuan dan anak meninggal saat menunggu bantuan gizi.
UNICEF mengecam kejadian tersebut sebagai kekejian yang harus dihentikan. Lembaga itu menegaskan bahwa warga sipil, terutama anak-anak, tidak boleh mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan dan air.
Sistem kesehatan di Gaza dilaporkan nyaris lumpuh total. Rumah sakit masih beroperasi secara terbatas meski berada di ambang kehancuran. Seorang dokter spesialis bedah dan endoskopi dikabarkan tewas pada akhir pekan lalu.
OCHA juga memperingatkan bahwa stok bahan bakar di Gaza telah mencapai titik kritis. Tanpa pasokan yang cukup, seluruh layanan penting seperti kesehatan, distribusi air, dan penyaluran bantuan terancam terhenti. Pasokan bahan bakar yang masuk pekan lalu hanya cukup untuk operasional satu hari.
Lebih dari 5.800 anak didiagnosis mengalami malanutrisi pada bulan lalu, dengan lebih dari 1.000 di antaranya menderita malanutrisi akut parah. Situasi ini telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut, dan bantuan yang masuk belum mampu memenuhi kebutuhan 2,1 juta penduduk Gaza.
PBB dan mitranya mendesak agar otoritas Israel segera membuka akses bantuan berskala besar melalui semua jalur yang memungkinkan.
Sementara itu, OCHA juga mencatat bahwa lebih dari 86 persen wilayah Gaza kini berada dalam zona militer atau diperintahkan untuk dievakuasi. Pada Jumat (11/7), sekitar 70.000 warga di kawasan Rimal, Gaza City, diperintahkan untuk mengungsi.
Kekerasan juga terus terjadi di Tepi Barat. Dua pemuda Palestina dilaporkan tewas dalam serangan oleh pemukim di dekat Ramallah pada hari yang sama. Sepanjang paruh pertama 2025, tercatat lebih dari 700 serangan pemukim terhadap warga Palestina, yang berdampak pada ratusan komunitas di wilayah Ramallah, Nablus, dan Hebron.DMS/AC











