Jakarta (DMS) – Dunia sempat dikejutkan dengan kabar meninggal muda karena stroke seorang influencer asal China, Wang Yefei, saat melakukan siaran langsung yang disaksikan ratusan ribu pengguna media sosial beberapa waktu lalu.
Perempuan berusia 39 tahun itu diketahui meninggal dunia akibat pendarahan batang otak, kondisi yang berkaitan dengan stroke dan kini semakin banyak menyerang kelompok usia muda.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa stroke yang dahulu identik dengan penyakit usia lanjut kini mulai mengintai masyarakat berusia di bawah 40 tahun. Perubahan gaya hidup modern dinilai menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko penyakit tersebut.
Untuk memahami pendekatan pencegahan stroke melalui traditional Chinese medicine (TCM) atau pengobatan tradisional China, Xinhua berbincang dengan pakar pengobatan Timur asal Yogyakarta, Arief Aditama, yang akrab disapa Suhu Tomy.
Menurut Tomy, tubuh manusia dapat dianalogikan sebagai miniatur alam semesta yang memiliki dinamika serupa dengan kondisi alam.
“Tubuh bengkak ibarat banjir yang menggenang, diare ibarat banjir bandang, vertigo ibarat angin puting beliung, migrain ibarat badai, ambeien ibarat tanah longsor di dunia nyata, demikian juga stroke di mana pembuluh darah pecah seperti tanggul yang jebol,” ujarnya.
Tomy menilai perkembangan zaman turut mengubah pola hidup manusia sehingga risiko stroke kini muncul lebih dini.
“Perubahan zaman membuat pola hidup manusia turut berubah, mulai dari beban pikiran yang semakin rumit, konsumsi yang serba instan, hingga perubahan kebiasaan dan lingkungan yang kian tercemar,” kata Tomy.
Pria berlatar belakang pendidikan kedokteran gigi itu menjelaskan bahwa kehidupan modern menghadirkan kemudahan sekaligus tantangan baru bagi kesehatan manusia.
“Meski perubahan zaman membawa kemudahan, namun juga menghadapkan tantangan. Contoh kita mudah berolahraga saat ini karena banyak terbantu alat modern, namun variasi makanan juga menjadi berlebih dari apa yang tubuh perlukan. Hal seperti ini dihadapi manusia modern yang mungkin bukanlah kendala utama di masa lalu,” ungkapnya.
Fokus pada Pencegahan
Dalam konsep TCM, pencegahan menjadi langkah utama untuk menghindari stroke. Tomy menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tubuh jauh sebelum gejala penyakit muncul.
Menurutnya, gangguan aliran energi atau qi, sirkulasi darah yang tidak lancar, serta stres berkepanjangan diyakini dapat memicu gangguan kesehatan, termasuk masalah pada pembuluh darah otak.
Tomy menyarankan masyarakat mulai memanfaatkan rempah-rempah Nusantara sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
“Rempah khas Nusantara seperti bawang putih, jahe, kunyit, kayu manis cocok untuk dijadikan bumbu dasar makanan sehari-hari guna mengolah rasa, manfaatnya pun mulai dari memperlancar peredaran darah, antioksidan, mengontrol gula darah dan kolesterol. Hal ini sederhana, namun kurang disadari masyarakat yang lebih sering memilih menambah garam atau gula berlebih,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa konsep kesehatan dalam TCM bersifat holistik, sehingga kondisi fisik, mental, dan emosional harus dijaga secara seimbang.
Pengelolaan stres, kualitas tidur, hingga kondisi psikologis dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan mencegah stroke.
Selain pola makan dan kesehatan mental, aktivitas fisik yang cukup juga disebut menjadi faktor penting. Namun Tomy mengingatkan olahraga sebaiknya dilakukan secara konsisten tanpa berlebihan.
“Bagi masyarakat umum, olahraga idealnya tidak perlu berlebihan namun konsisten. Jika tubuh menjadi terlalu lelah akibat aktivitas fisik, olahraga justru menjadi tidak efektif dan membuka pintu bagi patogen luar menyerang tubuh. Ini yang sekaligus menjawab pertanyaan rajin olahraga kok malah jadi sakit,” jelasnya.
Terapi TCM untuk Pasien Stroke
Tomy menjelaskan bahwa TCM juga dapat digunakan sebagai terapi pendamping bagi pasien stroke yang menjalani pengobatan medis modern.
“Pada prinsipnya TCM dapat berjalan beriringan dengan pengobatan modern ala Barat. Di China sendiri hal tersebut sudah dilakukan berdampingan karena mendapat lampu hijau pemerintah,” ungkapnya.
Meski demikian, penggunaan herbal bagi pasien yang sedang menjalani terapi medis tetap harus berada di bawah pengawasan praktisi profesional karena berpotensi berinteraksi dengan obat tertentu, seperti pengencer darah.
“Jika seseorang juga sedang menjalani pengobatan dokter, maka penggunaan herbal harus diawasi sinse atau praktisi profesional karena dapat berinteraksi dengan obat medis seperti pengencer darah,” terang Tomy.
Salah satu terapi yang umum digunakan dalam TCM adalah akupunktur. Metode ini dilakukan dengan menempatkan jarum tipis pada titik tertentu tubuh untuk membantu memperlancar sirkulasi darah serta mempercepat pemulihan fungsi tubuh pasien stroke.
“Jarum tipis ditempatkan pada titik tertentu tubuh, fungsinya untuk membantu melancarkan sirkulasi darah, mengurangi kekakuan otot, membantu pemulihan saraf, mengurangi nyeri dan kelumpuhan, membantu memulihkan kemampuan bicara dan koordinasi tubuh,” jelasnya.
Selain akupunktur, terapi pijat Tuina juga kerap digunakan untuk membantu relaksasi otot, memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi kekakuan anggota tubuh, hingga meningkatkan mobilitas pasien.
Latihan pernapasan seperti Tai Chi dan Qi Gong juga disebut bermanfaat untuk melatih keseimbangan tubuh, mengurangi stres, meningkatkan koordinasi gerak, serta membantu rehabilitasi motorik pasien stroke.
Menurut Tomy, proses pemulihan stroke membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan emosional pasien karena rehabilitasi berjalan secara menyeluruh.
“Penyembuhan stroke membutuhkan kesiapan fisik, mental dan emosional dari sisi penderita. Prosesnya tentu membutuhkan waktu, namun hal ini pula yang secara kognitif berhubungan karena TCM memandang rehabilitasi secara holistik, yang artinya proses recovery tentu menyangkut segala faktor, dari fisik hingga psikis. Jika kondisi psikis pasien sudah membaik, penyembuhan akan berjalan beriringan sehingga lebih efektif,” tutup Tomy.











