Ambon, Maluku (DMS) – Ruas jalan trans-provinsi yang menghubungkan Desa Amahusu dan Dusun Eri, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, mengalami kerusakan parah akibat abrasi pantai. Kondisi jalan yang berada tepat di bibir pantai itu semakin mengkhawatirkan karena sebagian badan jalan telah ambruk setelah diterjang gelombang laut, sementara penanganan dari pemerintah dinilai belum terlihat hingga hampir dua tahun terakhir.
Pantauan di lokasi pada Sabtu, (13/06/2026) menunjukkan badan jalan mengalami retakan besar dan longsor ke arah pantai. Talud penahan ombak yang berfungsi melindungi jalan juga telah rusak berat, bahkan di beberapa titik hancur total sehingga gelombang laut terus menggerus bagian bawah jalan.
Warga Dusun Eri, Ampi de Queljoe, mengaku kecewa karena hingga kini belum ada perbaikan nyata meski material batu telah ditumpuk di sekitar lokasi kerusakan.
“Ini kan ada anggaran dari pusat untuk hal-hal demikian. Kok sampai sekarang hanya material yang diturunkan, tetapi pelaksanaannya tidak ada. Sebagai masyarakat, kami melihat material hanya menumpuk di pinggir jalan dan membuat jalan semakin sempit serta menimbulkan kemacetan. Sudah hampir dua tahun, tetapi belum ada pekerjaan perbaikan,” ujarnya.
Menurut Ampi, terdapat sedikitnya enam titik kerusakan kritis di sepanjang jalur Amahusu–Eri yang membutuhkan penanganan segera. Ia berharap pemerintah menggunakan alat berat dalam proses perbaikan karena kondisi ombak di kawasan tersebut sangat kuat.
“Kalau mau diperbaiki harus menggunakan alat berat. Ombak di kawasan ini sangat besar sehingga pekerjaan harus dilakukan secara maksimal agar tidak cepat rusak kembali,” katanya.
Selain mengancam akses transportasi, kerusakan talud juga berdampak langsung terhadap permukiman warga di pesisir Dusun Eri. Saat musim timur dan gelombang tinggi melanda, air laut kerap meluap hingga ke badan jalan dan masuk ke rumah-rumah warga.
Warga lainnya, Rudy Simanjuntak, mengaku masyarakat selalu dihantui rasa khawatir ketika cuaca buruk terjadi karena gelombang laut dapat mencapai kawasan permukiman.
“Kalau musim ombak besar datang, katong seng bisa tidur. Air naik sampai di atas rumah-rumah sini dan jalan juga sering terendam. Katong berharap pemerintah segera memperhatikan talud ini karena setiap kali ombak besar datang, katong terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ungkap Rudy.
Persoalan lain yang dikeluhkan warga adalah minimnya penerangan jalan umum di sepanjang ruas Amahusu–Eri. Pada malam hari, kondisi jalan yang gelap dan berada di tepi pantai dinilai sangat berbahaya bagi pengendara, terutama di lokasi-lokasi yang mengalami longsor dan abrasi.
Warga berharap Pemerintah Kota Ambon maupun Pemerintah Provinsi Maluku segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki talud dan badan jalan yang rusak sebelum akses vital tersebut terputus total akibat hantaman gelombang laut.
DMS











