Taniwel, Seram Bagian Barat (DMS) – Keterbatasan infrastruktur jalan di wilayah pegunungan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, kembali memicu keprihatinan mendalam. Akibat belum adanya akses jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat, warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, terpaksa memikul peti jenazah seorang lansia sejauh lebih dari 4 kilometer menuju tempat pemakaman.
Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Minggu (21/6/2026). Warga secara bergotong royong membawa jenazah almarhumah Ibu Balandina Tibalimeten (70) dari Desa Taniwel menuju Desa Lohia Sapalewa untuk dimakamkan di kampung halamannya.
Almarhumah dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIT akibat sakit yang dideritanya. Namun, proses pemulangan jenazah tertahan karena kendaraan roda empat tidak dapat menjangkau desa tujuan. Warga akhirnya harus mengangkat peti jenazah secara bergantian melewati jalur pegunungan yang terjal dengan berjalan kaki selama beberapa jam.
Duka Menahun Warga Pegunungan SBB
Kondisi ini menjadi potret nyata kehidupan masyarakat di pedalaman Maluku yang masih terisolasi dari akses transportasi modern. Kesulitan tidak hanya terjadi saat ada kedukaan. Warga setempat juga harus bertaruh nyawa dengan cara ditandu ketika ada orang sakit yang membutuhkan pertolongan medis darurat ke puskesmas atau rumah sakit.
Kepala Desa Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, menyatakan bahwa masyarakat selama ini hanya bisa pasrah sambil terus mengetuk pintu hati pemerintah.
“Kami hanya bisa berharap kepada Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemerintah Provinsi Maluku, dan Pemerintah Pusat untuk melihat langsung kondisi kami masyarakat desa di daerah pegunungan,” ujar Thomas.
Desak Pemkab SBB dan Pusat Buka Keterisolasian
Menurut Thomas, ketiadaan infrastruktur jalan merupakan persoalan menahun yang hingga kini belum mendapatkan solusi konkret. Jarak 4 kilometer lebih dari jalan utama menuju desa terpaksa harus ditempuh dengan berjalan kaki karena medan yang mustahil ditembus kendaraan.
“Setiap kali ada warga yang sakit atau meninggal dunia, kami terpaksa harus menggotongnya bersama-sama karena mobil memang tidak bisa masuk,” ungkapnya.
Ia mendesak pemerintah daerah maupun pusat segera merealisasikan pembangunan jalan ke Desa Lohia Sapalewa. Infrastruktur ini dinilai krusial agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam kesulitan serupa, terutama dalam situasi darurat kesehatan. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah akan pentingnya pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman Maluku yang masih terisolasi.
DMS











