Jakarta (DMS) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan mayoritas kota besar di Indonesia akan mengalami cuaca berawan hingga hujan ringan pada Sabtu. Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah.
Prakirawan BMKG Nazmi Nariyah menjelaskan bahwa kondisi cuaca tersebut dipengaruhi oleh adanya daerah konvergensi yang memanjang dari Samudra Pasifik di timur Filipina hingga Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera.
Menurut dia, fenomena atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah yang dilalui daerah konvergensi maupun konfluensi sehingga memicu terjadinya hujan dengan berbagai intensitas.
BMKG memprakirakan sejumlah kota besar berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat yang disertai petir dan angin kencang, yakni Tanjung Pinang, Padang, dan Tanjung Selor.
Sementara itu, hujan ringan hingga sedang diprediksi terjadi di sejumlah kota besar lainnya, meliputi Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Semarang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Denpasar, Kupang, Sorong, Nabire, dan Jayapura.
Adapun beberapa kota besar yang diprakirakan hanya mengalami kondisi berawan sepanjang hari antara lain Jakarta, Banjarmasin, Mataram, Makassar, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, Manokwari, Jayawijaya, dan Merauke.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem, terutama di wilayah yang diperkirakan mengalami hujan lebat disertai petir dan angin kencang, serta selalu memantau informasi cuaca terkini dari lembaga tersebut.
Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa kemampuan Indonesia dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa siklus El Nino terakhir.
Ia menjelaskan luas karhutla saat fenomena El Nino mengalami tren penurunan yang cukup signifikan. Pada 2015, luas karhutla tercatat sekitar 2,61 juta hektare. Angka tersebut turun menjadi 1,64 juta hektare pada 2019 dan kembali menurun menjadi sekitar 1,16 juta hektare pada 2023.
Menurut Raja Juli, dalam dua siklus El Nino terakhir, Indonesia berhasil menekan luas kebakaran hutan dan lahan hingga 55,6 persen dibandingkan dengan kondisi pada 2015.
Di sisi lain, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan cenderung lebih kering. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September, sehingga kewaspadaan terhadap potensi karhutla tetap perlu ditingkatkan.
DMS/AC










