Dikutip dari Hindustan Times, Senin (8/6) waktu setempat, gejala awal kanker usus besar pada wanita muda dapat berupa kram perut, perut kembung, perubahan pola buang air besar, hingga kekurangan zat besi tanpa penyebab yang jelas. Menurut Sethi, keluhan-keluhan tersebut kerap dianggap sebagai masalah kesehatan ringan sehingga tidak segera mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kram, kembung, dan perubahan usus pada wanita muda sering kali diabaikan selama bertahun-tahun, sementara kanker usus besar terus berkembang secara diam-diam. Tiga dari empat diagnosis pada usia muda sudah berada pada stadium lanjut ketika akhirnya terdeteksi,” ujar Sethi.
Ia juga menyoroti pola konsumsi makanan modern, khususnya makanan ultra proses, yang dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kanker usus besar pada kelompok usia muda. Menurutnya, tingginya konsumsi makanan ultra proses dan rendahnya asupan makanan utuh atau real food dapat mengurangi keragaman mikrobioma usus, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Kondisi tersebut dapat memicu peradangan kronis pada usus besar dan meningkatkan risiko perkembangan sel kanker. Sethi menyebutkan bahwa angka kejadian kanker kolorektal dini terus meningkat dan tercatat mengalami kenaikan sekitar tiga persen sejak 2013.
Untuk membantu menjaga kesehatan usus, ia menekankan pentingnya konsumsi serat dalam jumlah yang cukup setiap hari. Serat berfungsi mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus serta membantu menjaga keseimbangan mikrobioma yang berperan dalam melindungi saluran pencernaan dari berbagai penyakit.
“Rata-rata wanita Amerika hanya mendapatkan sekitar 15 gram serat per hari, atau sekitar 40 persen lebih rendah dari rekomendasi 25 gram yang sebenarnya dibutuhkan bakteri baik di usus besar,” katanya.
Selain pola makan, Sethi menilai stres juga menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian. Tingkat stres yang tinggi pada wanita muda dapat memicu peradangan di saluran pencernaan, mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, serta mempercepat kerusakan sel pada lapisan usus besar yang berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Meski pemeriksaan atau skrining kanker usus besar umumnya direkomendasikan mulai usia 45 tahun, Sethi mengingatkan bahwa banyak kasus kini ditemukan pada pasien berusia 30-an tahun. Kondisi tersebut sering terjadi karena gejala awal tidak dikenali atau dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa, sehingga diagnosis baru ditegakkan ketika kanker telah berkembang ke stadium yang lebih lanjut.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat, khususnya wanita muda, untuk tidak mengabaikan keluhan pencernaan yang berlangsung lama atau berulang. Pemeriksaan medis sejak dini dinilai penting untuk meningkatkan peluang deteksi dan penanganan kanker usus besar pada tahap awal.











