Namlea, Pulau Buru (DMS) – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Buru mendesak Kepolisian Resor (Polres) Buru segera menangkap Markus, yang oleh mereka disebut sebagai salah satu pemain utama tambang emas ilegal di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku.
Desakan itu disampaikan menyusul aktivitas pertambangan ilegal yang dinilai masih marak dan belum ditertibkan secara menyeluruh. GMNI menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya penegakan hukum di wilayah tersebut. Organisasi mahasiswa itu juga menduga adanya pembiaran, bahkan perlindungan dari oknum aparat yang berjaga di kawasan tambang.
Koordinator Lapangan GMNI Cabang Buru, Julfikram Kapota, mengatakan fakta di lapangan menunjukkan aktivitas tambang ilegal masih berlangsung secara terbuka.
“Kami melihat sendiri aktivitas di Gunung Botak masih berjalan. Ini menunjukkan penegakan hukum belum maksimal. Karena itu kami mendesak Polres Buru segera bertindak dan tidak membiarkan kondisi ini terus terjadi,” ujar Julfikram dalam orasinya.
Aksi tersebut berlangsung di Jalan Simpang Lima Namlea dan dilanjutkan di Mapolres Buru, Selasa (10/2/2026). Dalam aksinya, massa GMNI meminta Polres Buru tidak tebang pilih dalam penegakan hukum serta segera menertibkan seluruh aktivitas ilegal yang masih terjadi.
“Jangan hanya penambang kecil yang ditindak. Kalau hukum mau ditegakkan, semua yang terlibat harus diproses, termasuk yang diduga sebagai aktor utama,” tegasnya.
Mereka menekankan bahwa penindakan tidak boleh hanya menyasar penambang kecil, tetapi juga pihak-pihak yang diduga menjadi aktor utama di balik aktivitas tambang ilegal.
Selain mendesak aparat penegak hukum, GMNI juga mendorong pemerintah agar segera mengambil langkah konkret dengan melegalkan dan mengelola kawasan Gunung Botak secara resmi. Menurut mereka, legalisasi dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menghentikan praktik pertambangan ilegal yang dinilai merusak lingkungan dan memicu konflik sosial.
“Negara tidak boleh kalah dengan praktik ilegal. Pemerintah harus hadir dengan solusi, salah satunya melalui pengelolaan resmi yang berpihak pada masyarakat dan tetap menjaga lingkungan,” tambah Julfikram.
GMNI menegaskan akan terus mengawal persoalan tambang Gunung Botak dan menyatakan siap menggelar aksi lanjutan apabila tuntutan mereka tidak segera direspons oleh aparat penegak hukum maupun pemerintah daerah.
“Kalau tidak ada langkah nyata, kami pastikan akan turun lagi dengan massa yang lebih besar. Ini bentuk komitmen kami mengawal isu Gunung Botak,” tutupnya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Polres Buru terkait tuntutan tersebut.DMS











