Denpasar (DMS) – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan organisasi keagamaan di Bali telah memutuskan agar pelaksanaan malam takbiran dilakukan di rumah masing-masing apabila waktunya bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.
Menurut Koster, keputusan tersebut merupakan hasil rapat bersama berbagai majelis umat beragama di Bali dan bukan merupakan imbauan langsung dari pemerintah daerah.
“Kemarin saat rapat dengan semua majelis umat beragama sudah ada imbauan agar takbiran dilaksanakan di rumah masing-masing. Itu imbauan dari majelisnya, bukan dari gubernur,” kata Koster di Denpasar, Senin.
Ia menjelaskan bahwa di sejumlah kabupaten, organisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah telah lebih dahulu mengeluarkan arahan terkait pelaksanaan takbiran.
Koster menilai langkah tersebut sebagai keputusan yang baik untuk menjaga ketertiban selama perayaan Nyepi. Di beberapa daerah bahkan telah disepakati untuk tidak menggelar takbiran secara terbuka.
“Di Denpasar sudah ada kesepakatan tidak ada takbiran, kemudian di Buleleng juga demikian. Bahkan di daerah yang biasanya ada takbiran, kegiatan itu ditiadakan atau dilakukan lebih awal,” ujarnya.
Dengan adanya kesepakatan dari organisasi keagamaan tersebut, Koster meyakini pelaksanaan Hari Raya Nyepi dapat berlangsung dengan aman dan kondusif.
“Kalau itu terjadi semua, maka pada 19 Maret tidak ada takbiran. Jadi tidak ada yang perlu dirisaukan, situasinya aman dan kondusif. Pemerintah juga sudah memfasilitasi hal tersebut,” kata dia.
Pemerintah Provinsi Bali juga mempertimbangkan kemungkinan penetapan 1 Syawal oleh pemerintah pusat. Jika merujuk pada sidang isbat, terdapat kemungkinan Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026 sehingga malam takbiran tidak bertepatan dengan Nyepi.
Namun, organisasi Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Idul Fitri akan jatuh pada 20 Maret 2026. Artinya, malam takbiran kemungkinan berlangsung bersamaan dengan Hari Raya Nyepi.
Meski demikian, Pemprov Bali menilai kondisi tersebut tidak akan menjadi persoalan besar karena jumlah jamaah yang merayakan Idul Fitri pada tanggal tersebut tidak terlalu banyak. Umat juga dapat diarahkan oleh pimpinan organisasi keagamaan untuk melaksanakan takbiran di rumah masing-masing.
Dalam Rapat Koordinasi Penanganan Konflik Sosial menjelang Nyepi dan Idul Fitri, Koster menyebut beberapa daerah telah dipetakan sebagai wilayah yang berpotensi terjadi gesekan sosial, antara lain Denpasar, Buleleng, dan Jembrana.
Meski demikian, Bali selama ini dikenal mampu menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan masyarakatnya. Pada perayaan Nyepi maupun Idul Fitri, para tokoh lintas agama biasanya kompak menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kerukunan.
Koster juga mengingatkan bahwa tahun ini terdapat sejumlah dinamika sosial yang perlu diantisipasi, seperti kemungkinan munculnya narasi provokatif di media sosial, kurangnya pemahaman terhadap aturan Nyepi oleh pendatang maupun wisatawan asing, hingga potensi gangguan keamanan menjelang hari raya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Bali bersama TNI/Polri dan berbagai unsur masyarakat akan memperkuat langkah-langkah strategis, seperti meningkatkan koordinasi lintas sektor, memperkuat deteksi dini terhadap potensi konflik sosial, mengoptimalkan peran aparat keamanan dan perangkat desa adat, serta mengedepankan pendekatan dialogis dan persuasif dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul di masyarakat.
DMS/AC











