Jakarta (DMS) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah akan segera berbalik menguat terhadap dolar AS dalam dua pekan ke depan. Ia meminta pelaku pasar dan masyarakat tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan rupiah saat ini.
“Tidak usah panik, rupiah akan segera menguat dalam dua minggu ke depan,” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, pemerintah masih menunggu masukan dari Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang bertugas menjaga stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong perbaikan kinerja ekonomi nasional guna mencetak pertumbuhan yang lebih tinggi.
Purbaya optimistis perekonomian Indonesia pada 2026 mampu tumbuh hingga enam persen. Ia menilai fundamental ekonomi nasional terus membaik dan tidak ada alasan bagi pelaku pasar untuk ragu bertransaksi menggunakan rupiah.
“Fondasi ekonomi kita semakin kuat. Asing juga sudah masuk, terlihat dari pasar modal. Kalau dikelola dengan baik, mengembalikan rupiah bukan hal sulit,” katanya.
Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, nilai tukar rupiah tercatat menguat 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.870 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.877 per dolar AS.
Namun demikian, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai rupiah masih berpotensi tertekan oleh sentimen global, khususnya rencana Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Iran.
Kebijakan tersebut dinilai meningkatkan ketegangan perdagangan global, terutama karena China merupakan salah satu importir utama minyak Iran. Trump disebut akan memberlakukan tarif sebesar 25 persen dan menegaskan kebijakan itu bersifat final.
“Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS,” ujar Josua.
Sentimen global lainnya datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi AS pada Desember 2025 tercatat stabil di level 2,7 persen secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar, sementara inflasi inti berada di bawah perkiraan. Selain itu, data penjualan rumah baru menunjukkan permintaan konsumen AS masih cukup kuat.
DMS/AC










