Ambon, Maluku (DMS) – UPTD Museum Siwalima Provinsi Maluku kembali menyelenggarakan Seminar Kajian Koleksi Museum Siwalima Tahun 2026 dengan mengusung tema “Narasi Leluhur dalam Benda-Benda Budaya.”
Kegiatan ini menjadi ruang akademik sekaligus forum budaya untuk menggali, mendokumentasikan, dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai koleksi warisan budaya Maluku.
Seminar yang diikuti oleh akademisi, mahasiswa, budayawan, serta pemerhati sejarah ini merupakan bagian dari komitmen Museum Siwalima dalam menjalankan fungsi edukasi dan pelestarian budaya.
Melalui kegiatan tersebut, museum berupaya menghadirkan kembali cerita, makna, dan pesan yang tersimpan dalam benda-benda budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala UPTD Museum Siwalima Provinsi Maluku, Helga Sahetapy, mengatakan bahwa museum memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah.
Menurutnya, setiap koleksi yang tersimpan di museum mengandung nilai pengetahuan, sejarah, identitas, dan filosofi kehidupan masyarakat yang perlu terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda budaya, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menyimpan jejak perjalanan hidup masyarakat, nilai-nilai leluhur, serta identitas budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Sahetapy.
Ia menjelaskan bahwa berbagai koleksi yang dimiliki Museum Siwalima, mulai dari kerajinan tradisional, perhiasan adat, perlengkapan upacara, hingga patung keluarga adat, menyimpan cerita tentang sejarah kehidupan masyarakat Maluku.
Koleksi-koleksi tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga merekam nilai spiritual, sistem sosial, dan kearifan lokal yang berkembang dari generasi ke generasi.
“Melalui kajian koleksi, kita dapat memahami lebih dalam makna yang terkandung dalam setiap benda budaya sehingga warisan leluhur tidak sekadar menjadi pajangan, tetapi tetap hidup dalam pengetahuan dan kesadaran masyarakat,”katanya.
Menurut Sahetapy, kajian koleksi menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi yang berpotensi menggeser pemahaman generasi muda terhadap budaya lokal.
Karena itu, seminar ini diharapkan dapat menghasilkan dokumentasi ilmiah, rekomendasi, serta gagasan-gagasan baru yang mendukung pengembangan koleksi dan pelestarian warisan budaya Maluku.
Sementara itu, Kasubag Tata Usaha UPTD Museum Siwalima Maluku, Meify Mailoa, menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan seminar, tim Museum Siwalima telah melakukan survei dan pendataan koleksi budaya di wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses kajian lapangan untuk memperkaya data dan informasi mengenai koleksi yang akan diteliti.
“Survei lapangan menjadi bagian penting dalam proses kajian karena memberikan informasi langsung mengenai latar belakang, fungsi, serta nilai budaya yang terkandung dalam setiap koleksi yang ditemukan,” jelas Mailoa.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, sejarawan, budayawan, dan dosen Universitas Pattimura. Peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai instansi kebudayaan serta mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi di Kota Ambon.
Melalui kegiatan tersebut, Museum Siwalima berharap generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan turut mempromosikan kekayaan budaya Maluku.
Selain memperkuat identitas daerah, upaya pelestarian budaya juga diharapkan dapat menjaga keberlanjutan warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
DMS











