Moskow (DMS) — Negara-negara di kawasan Teluk Persia dilaporkan mulai mempertimbangkan jalur pasokan alternatif menyusul situasi di Selat Hormuz yang kian memanas. Opsi yang dikaji antara lain pembangunan jaringan pipa untuk menjaga kelancaran distribusi energi ke pasar global.
Laporan Financial Times pada Jumat (27/3) menyebutkan hal tersebut berdasarkan keterangan seorang diplomat dari negara kawasan yang tidak disebutkan identitasnya. Ia menilai potensi pembatasan transit di Selat Hormuz mendorong negara-negara Teluk mencari solusi alternatif.
“Negara-negara Teluk akan mencari alternatif, seperti membangun jalur pipa,” ujar diplomat tersebut sebagaimana dikutip Financial Times.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Vahid Jalalzadeh sebelumnya menyatakan bahwa Teheran tengah menyiapkan kerangka hukum baru terkait pengelolaan Selat Hormuz. Aturan tersebut direncanakan akan diterapkan setelah konflik mereda, dengan melibatkan kerja sama bersama Oman.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Situasi tersebut memicu blokade de facto di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke berbagai negara di dunia.
Dampak dari kondisi ini tidak hanya mengganggu distribusi energi, tetapi juga memengaruhi tingkat produksi dan ekspor minyak di kawasan. Hal itu turut mendorong kenaikan harga energi di pasar global.
DMS/AC











