Jakarta (DMS) – Pemerintah memproyeksikan sebanyak 143,9 juta pergerakan orang akan terjadi selama periode libur Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Angka tersebut berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan, sehingga diperlukan pengaturan mobilitas agar arus perjalanan tidak menumpuk pada satu waktu tertentu.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan pemerintah berupaya mengurangi potensi kepadatan dengan memperlebar rentang waktu libur, mengatur jadwal libur sekolah, serta menerapkan flexible working arrangement (FWA) bagi aparatur sipil negara (ASN).
“Kita berusaha mengurangi tekanan dengan membuat rentang waktu libur yang lebih lebar, mengatur libur sekolah, serta menerapkan flexible working arrangement bagi para ASN, yang diharapkan dapat mengurangi beban pergerakan,” ujar Pratikno dalam Rapat Koordinasi Persiapan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M di Auditorium Mutiara, Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta, Senin.
Selain pengaturan mobilitas, Pratikno menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Ia menyebutkan kondisi di sejumlah wilayah Sumatera belum sepenuhnya pulih dari bencana sebelumnya, dengan hujan yang kembali turun dan banjir yang kembali melanda sejumlah daerah terdampak.
Di luar Sumatera, kewaspadaan juga ditingkatkan di berbagai wilayah dengan potensi curah hujan tinggi, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bali, hingga Papua.
“Kita harus berusaha keras untuk menjaga keamanan, keselamatan jiwa adalah prioritas yang paling tinggi. Kita harus bersama-sama melakukan mitigasi bencana yang terintegrasi,” tegasnya.
Pratikno juga menyoroti aspek keselamatan perjalanan masyarakat, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang selama ini mendominasi arus mudik. Pengamanan jalur-jalur vital yang menjadi titik krusial arus mudik dan arus balik juga harus diperkuat.
“Fokus keselamatan, terutama sekali para pengendara motor. Pengamanan jalur vital juga harus menjadi perhatian bersama untuk pelayanan yang aman,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar pelayanan selama periode mudik dan libur Idul Fitri tidak hanya mengedepankan aspek keamanan, tetapi juga kenyamanan dengan pendekatan humanis dan inklusif. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia harus mendapatkan perhatian khusus.
“Selain aman, tentu saja juga nyaman. Kami harapkan pendekatan humanis dan inklusif, terutama memberikan perhatian utama kepada kelompok-kelompok rentan, anak-anak, ibu hamil, lansia,” katanya.
Menurut Pratikno, keberhasilan penyelenggaraan layanan Idul Fitri sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, penguatan deteksi dini, serta pengambilan keputusan yang berbasis data riil dan pengecekan lapangan secara berkelanjutan.
Ia menegaskan seluruh langkah tersebut merupakan komitmen bersama untuk menjamin keselamatan dan kelancaran masyarakat selama periode Lebaran.
“Ini adalah komitmen kita bersama untuk menjamin layanan yang aman, nyaman, dan lancar. Kehadiran negara harus dirasakan secara langsung oleh masyarakat melalui layanan yang humanis dan responsif,” ujarnya.
DMS/AC











